Tulisan-tulisan ini...

Semua tulisanku diinspirasikan oleh kisah nyata, sungguh nyata, dengan nama dan beberapa hal telah kuganti untuk melindungi privasi orang yang bersangkutan. Tulisan-tulisanku ini tidak untuk mengangkat 'kecengengan' atau 'kesedihan' tetapi sebaliknya, kisah-kisah yang kutulis ini adalah kisah-kisah perjuangan yang walau tidak mudah namun akhirnya penuh kemenangan dari pribadi-pribadi yang berhati baik.

-Salam hormat & kasihku untuk semua keluarga Indonesia.

Kalau Ingin Membahagiakan Anak, Kenapa Tidak Sinkron?


     Di dalam seminar saya, saya sering menanyakan orangtua seperti ini, “Jujur, siapakah di antara bapak-ibu yang ingin membahagiakan anak-anak?” Hampir semua mengangkat tangannya dengan semangat, suasana menjadi sedikit riuh.
     Kemudian saya bertanya lagi, “Jujur, siapakah di antara bapak-ibu yang benar-benar merasa hidupnya bahagia?” Pertanyaan ini akan membuat suasana segera senyap.. Dan tangan-tangan yang terangkat sudah sangat berkurang jumlahnya. Biasanya, hanya sepertiga dari peserta yang hadir yang mengangkat tangannya. Bahkan, di suatu seminar, saya pernah mendapat kurang dari 10 peserta yang mengangkat tangannya dari jumlah 80 puluhan peserta yang hadir.
     Saya bertanya, “Siapakah di antara bapak-ibu yang pernah mendapat promosi di dalam pekerjaannya?” Sejumlah tangan terangkat, saya akan datang menghampiri salah satu peserta dan bertanya “Bapak senang ketika mendapat promosi?” Jawabnya, “ya, saya sudah bekerja baik, tentu layak mendapat promosi.” Katanya datar.
     Saya lanjut lagi bertanya, “Siapakah di antara ibu-ibu di sini yang rajin belanja ke pasar untuk memasak?” Beberapa ibu mengangkat tangannya, kembali saya hampiri salah satu ibu dan bertanya, “Ibu pernah belanja dan mendapatkan lengkap semua keperluan memasak?” Ibu itu mengangguk. “Bagaimana perasaan ibu?” Tanya saya lagi. “Yaaa kan, kalau belum lengkap saya akan cari terus. Kalau sudah lengkap, ya saya pulang.” Jawab ibu.
     Kepada peserta lain saya bertanya, “Bagaimanakah perasaan ibu ketika bangun bagi?” Jawabnya, “Ya, biasalah, saya akan segera menyiapkan sarapan dan mengurus anak-anak ke sekolah.” Kemudian, satu orang lagi seorang bapak yang berprofesi sebagai pedagang, saya bertanya, “Bapak, kalau dagangan bapak laku keras, apa perasaan bapak?” Bapak itu menjawab, “Ya senanglah, tapi kan kalau dagang, tidak pasti, hari ini untung, besok belum tentu.” Jelasnya.
     Saya bertanya kepada 4 orang tentang promosi, belanja, bangun pagi, dapat untung; dan jawaban para peserta itu seperti mem-blok dirinya untuk benar-benar merasa ‘senang’. Selalu ada alasan pengimbang yang membuat rasa senang itu tidak benar-benar dirasakan ataupun dinikmati.
     Bagaimana kita bisa membahagiakan anak-anak kita jika kita tidak pernah benar-benar tahu apa itu ‘senang’ atau ‘bahagia’?
     “Pak, ketika bapak dipromosi, mengapa bapak tidak berkata pada anak-anak bapak, ayah lagi senang sekali karena ayah dapat promosi. Yuk, kita makan bareng merayakannya.” Tanya saya. Bapak yang saya tanyakan hanya diam.
     “Ketika semua belanjaan sudah lengkap, pernahkah ibu berkata pada anak-anak ibu, mama senang banget semua belanjaan mama lengkap, masakan mama pasti enak?” Pertanyaan saya hanya dibalas dengan tatapan sang ibu, saya yakin ibu itu merasa bahwa perkara belanjaan lengkap bukanlah suatu hal besar yang perlu digembar-gemborkan.
     Kebanyakan orangtua sangat ahli mengungkapkan emosi-emosi negatif seperti kemarahan atau kekesalan. Namun tak banyak orangtua pandai mengungkapkan emosi gembira, senang, bahagia. Ini sangat tidak sinkron dengan tujuan mulianya ingin membahagiakan anak-anaknya. Orangtua yang hanya tahunya marah ataupun sedih, sebenarnya sedang mewariskan suatu ‘keahlian’ pada anak-anaknya untuk berperasaan buruk dan meratapi hidup.

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
FB fanpage: Yacinta Senduk
Follow twitter: @Yacinta_Senduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian

Ikuti sekilas parenting kami di youtube: http://youtu.be/DB_ewJfxGzg


Bunda BELANJA atau PASANG IKLAN GRATIS:
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com

Ingin Mereka Berhasil Seperti Saya

     Sepasang suami istri akan menjemput anak-anak mereka, setelah cukup lama ditunggu, ternyata kedua anak mereka belum keluar juga sehingga sang istri segera mencari ke dalam kelas. Sementara itu, sang suami duduk di ruang tunggu.
     “Biasanya mereka pasti sedang asyik main dengan pelatih, Pak.” Kata saya kepada bapak yang sedang menunggu istri dan anak-anaknya itu. Ia segera mengangguk dan berkata, “Iya, tidak apa, biar istri saya saja yang mengajak pulang anak-anak. Mereka lebih menurut sama ibunya.” Kata bapak itu santai. Bermaksud mengisi kekosongan, saya berkata, “Apa dengan bapak, anak-anak kurang menurut?”
     “Entahlah! Saya belum tahu bagaimana harus mendidik anak saya.” Katanya berubah menjadi serius. “Saya menyerahkan masalah mendidik anak seutuhnya pada istri saya karena sampai saat ini, masih dilema bagi saya bagaimana untuk mendidik anak-anak.” Katanya
     “Mengapa dilema, Pak?” Tanya saya penasaran.
      “Kalau saya yang harus mendidik, mungkin saya akan mendidik dengan sangat keras… Anda tahu, perjalanan saya menjadi orang seperti hari ini, sangatlah tidak mudah. Saya telah mengalami hal-hal buruk. Tetapi… Itulah yang membuat saya ‘jadi orang’ saat ini.” Lanjutnya.
     “Waktu SMA, saya pernah terlibat tawuran dan dibawa ke kantor polisi. Saya sudah pernah merasakan dipukuli aparat. Waktu kuliah, saya juga aktivis, saya juga pernah diseret aparat lalu direndam di air bak dan mendekam di sel selama 2 hari. Nah! Kalau saya yang harus mendidik anak saya, saya akan keras dengan anak-anak saya, tidak boleh ada yang manja. Ini nih… Seperti dijemput-jemput begini, wah! Sebenarnya saya tidak setuju.” Kata bapak itu lagi.
     “Tetapi saya lihat, bapak dan ibu rajin menjemput anak-anak.” Sela saya.
     “Itulah mengapa tadi saya katakan bahwa ini adalah dilema buat saya.” Sahutnya.
     “Seandainya besok, bapak-ibu tidak usah menjemput lagi, bagaimana?” Tanya saya. Lama beliau tidak menjawab pertanyaan saya.
     “Saya tahu bahwa bapak berusaha menjawab pertanyaan saya dengan jujur. Sebenarnya bapak bisa saja menjawab, bapak menjemput karena istri bapak yang memanjakan anak-anak tetapi ada satu hal di dasar hati bapak dimana sebenarnya bapak juga ingin ikut menjemput anak-anak.” Kata saya.
     “Saya ingin melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh orangtua saya dulu, yaitu memperhatikan anak-anaknya. Tetapi saya takut mereka tidak bisa jadi orang berhasil kalau saya terlalu lembek.” Katanya benar-benar dengan raut bingung.
     “Seandainya anak-anak bapak tidak jadi orang berhasil seperti bapak, apakah bapak tetap akan menyayangi mereka?” Tanya saya ringan.
     “Tentu saja! Orangtua akan selalu sayang pada anak-anaknya sampai mati, bukankah harusnya begitu?” Ganti bapak itu bertanya.
     “Apakah setiap orang berhasil harus dipukuli aparat dan mendekam di sel penjara, Pak?” Tanya saya lagi. Bapak itu menggeleng. “Mulai saja mendidik anak-anak bersama istri bapak. Ikuti kata hati bapak, jangan ikuti ketakutan bapak. Anak-anak cepat menjadi besar, kalau bapak terlalu lama berada di dalam dilema, anak-anak mungkin tidak akan mengacuhkan bapak sebagai balas bahwa bapak tidak acuh juga di dalam mendidik mereka.” Kata saya tersenyum.
     Beberapa waktu kemudian, di dalam kelas, anak-anak bapak itu mulai sering bercerita tentang aktivitas mereka dengan ayah mereka. Anak-anak itu sedang diajari bisnis sederhana rupanya... Semoga sukses!


Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
FB fanpage: Yacinta Senduk
Follow twitter: @Yacinta_Senduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian

Ikuti sekilas parenting kami di youtube: http://youtu.be/DB_ewJfxGzg


Bunda BELANJA atau PASANG IKLAN GRATIS:
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com

Menyedihkan Papa Tidak Pernah Pulang, Tapi...

Suatu hari saya mendengarkan percakapan dua orang murid saya, sebut saja nama mereka Anto, 9 tahun dan Riko, 10 tahun.
     “Mengapa kamu tidak minum jus wortel yang dibawakan papamu?”Tanya Anto kepada Riko yang ternyata sudah dua kali melihat Riko membuang jus wortel yang selalu dibawakan papanya.
     “Uh! Aku benci jus wortel, tidak enak rasanya. Sudah berkali-kali aku bilang sama papa, jangan bawakan jus wortel, tapi papaku itu tetap saja maksa-maksa aku minum jus wortel. Papaku memang nyebelin.” Jawab Riko.
     “Jus wortel kan sangat bagus untuk mata.” Sahut Anto lagi.
     “Iya, memang papa menyuruh aku minum jus wortel supaya minus mataku berkurang.” Kata Riko lagi.
     “Wah! Berarti papamu baik sekali.” Timpal Anto.
     “Tetap saja jus wortel rasanya tidak enak dan aku tidak suka dipaksa minum itu.” Sahut Riko.
     “Kalau papamu tahu bahwa jus yang dibawanya selalu kamu buang di kamar mandi, papamu pasti sedih sekali. Papamu kan berharap supaya matamu kembali sehat.. Kalau aku jadi kamu, aku pasti menuruti permintaan papaku.” Ujar Anto.
     “Papamu pernah menyuruhmu minum jus yang tidak kamu sukai?” Tanya Riko. Anto segera menggelengkan kepalanya. “Tidak! Papaku tidak pernah menyuruh aku macam-macam, karena aku sudah lama tidak punya papa. Papaku pergi waktu aku kecil dan sampai sekarang belum pulang-pulang.” Jawab Anto.
     “Jadi… sampai sekarang papamu tidak ada? Jahat sekali papamu itu. Kamu dan mamamu pasti marah pada papamu ya?” Sahut Riko.

Saya yang memang dari tadi mendengar pembicaraan mereka pun merasa kaget dengan penuturan Anto. Saya tidak pernah tahu bahwa Anto telah ditinggalkan ayahnya. Mendengar pertanyaan Riko yang terakhir kepada Anto, saya ingin menengahi pembicaraan mereka agar Anto jangan merasa sedih, namun belum sempat saya bertindak, saya mendengar Anto menjawab pertanyaan Riko.
     “Waktu hari-hari pertama papaku tidak kembali ke rumah, aku memang sangat sedih. Aku heran mengapa papa tidak pulang-pulang. Tetapi, setiap malam, mama, aku dan adikku selalu berkumpul. Mama bilang, memang sangat menyedihkan papa tidak mau pulang dan berkumpul dengan kami tapi mama selalu bertanya pada aku dan adikku, percaya tidak bahwa Tuhan sangat baik? Aku dan adikku akan mengangguk tanda percaya. Lalu mama akan bertanya, coba kita pikirkan apa yang Tuhan telah berikan pada kita? Aku dan adikku akan berlomba menjawab; aku sehat, aku punya tempat tidur yang empuk, aku bisa sekolah, aku punya kakek-nenek yang baik, aku punya Ciko anjing lucu kesayanganku, aku bisa makan sosis karena aku suka sosis, aku dapat nilai bagus di sekolah, dan… masih banyak lagi jawaban-jawaban berbeda yang bisa kami berikan hampir setiap malam. Begitu banyaknya jawaban yang kami dapat membuat kami selalu ingat bahwa Tuhan itu sangat-sangat dan sangaaaattt baik. Kata mama, papa tidak pulang, itu memang menyedihkan. Hal baik dan buruk sering terjadi di dalam hidup, tapi kalau kita sedih melulu, kita akan melupakan banyak hal-hal indah.” Kata Anto sangat bersemangat.


Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
FB fanpage: Yacinta Senduk
Follow twitter: @Yacinta_Senduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian

Ikuti sekilas parenting kami di youtube: http://youtu.be/DB_ewJfxGzg


Bunda BELANJA atau PASANG IKLAN GRATIS:
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com