Tulisan-tulisan ini...

Semua tulisanku diinspirasikan oleh kisah nyata, sungguh nyata, dengan nama dan beberapa hal telah kuganti untuk melindungi privasi orang yang bersangkutan. Tulisan-tulisanku ini tidak untuk mengangkat 'kecengengan' atau 'kesedihan' tetapi sebaliknya, kisah-kisah yang kutulis ini adalah kisah-kisah perjuangan yang walau tidak mudah namun akhirnya penuh kemenangan dari pribadi-pribadi yang berhati baik.

-Salam hormat & kasihku untuk semua keluarga Indonesia.

Orangtua, percayalah hal yang baik!

Seorang ayah mengeluhkan perilaku anaknya kepada saya, wajahnya nampak marah, “saya sudah tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi James (bukan nama sesungguhnya). Semua usaha sudah saya lakukan tetapi James tidak berubah! Saya sudah kehabisan akal. Masak iya saya harus marah-marah terus?” Ujar ayah itu. Hari itu saya tidak memberi saran apapun kepada sang ayah, saya ingin melihat langsung saja si anak yang dikeluhkannya.

Memang benar, James yang berusia 7 tahun itu terlihat sulit diatur, bicaranya sinis cenderung kasar, bahkan sesekali ia memang terlihat sangat menganggu kelas. Beberapa kali pengajar harus memberikan peringatan dan mengharuskan ia menulis janji tulus tentang hal-hal apa yang perlu diperbaikinya.


Berangkat dari rasa percaya bahwa setiap masalah pastilah mempunyai jalan keluarnya, maka satu per satu masalah perilaku James kami pikirkan jalan keluarnya. Memang tidak ada proses instan, tetapi bagaimanapun, kami memilih percaya bahwa James adalah anak yang baik.


Setelah 2 bulan, kami melihat ada perubahan yang baik pada James, tapi sifatnya memang belum permanen, sesekali ia masih berperilaku kasar. Kembali kami bertemu dengan sang ayah. Kali ini tampak ia bukan saja frustrasi pada James, tapi ia sudah frustrasi juga dengan pengajar yang dianggapnya tidak berhasil merubah James. “Saya sudah tahu dari awal, James memang tidak bisa berubah. James memang nakal dan dibawa kemanapun dia tidak akan berubah.” Kami mengkomunikasikan hal-hal apa saja yang mulai berubah dari James walaupun sifatnya belum permanen, tetapi perubahan itu murni dari usaha James. Menurut kami itu adalah awal yang baik, yang harus lebih diperkuat lagi. Sang ayah berkata, “saya tidak yakin James bisa berubah.”


Belakangan kami mengerti bahwa sebenarnya yang membuat James tidak bisa berubah adalah keyakinan orangtuanya. Kami berupaya memberikan fakta bahwa James sudah mulai belajar sendiri setengah jam atas kemauannya sendiri, sudah mau mengurangi frekwensi bertengkarnya dengan teman di sekolah, sudah mulai mau menahan diri tidak marah-marah; tapi ayahnya terus saja mengulang-ngulang kenakalan-kenakalan James, seperti ketika James berteriak-teriak di mal, menjambak rambut adiknya, membantah perkataan orangtuanya. Lalu kami berkata, “James selalu mengerjakan PR-nya.” Sanggah ayah, “ya, itu kan karena disuruh.” Tapi James juga mau membereskan mainannya.” Sanggah ayah, “dia mana berani berantakan, nanti bisa saya hukum”. “James sudah lebih sabar menunggu gilirannya beraktivitas di kelas kami.” Lanjut kami. Sanggah ayah, “iya, cuma di sini saja dia pura-pura baik, di rumah sih enggak tuh.” Ujar sang ayah sinis seolah merasa terpojok.

“Baiklah, menurut bapak, anak yang baik itu seperti apa?” Tanya saya. Ayah itu tidak langsung menjawab, bahkan ia tampak kehilangan kata-kata sampai akhirnya ia berkata, “ya seperti anak-anak lainnya itulah, yang tidak menyusahkan orangtuanya, yang kerjanya tidak bikin sakit kepala saja. Kita kan juga sudah sibuk, ditambah musti mengurus dia, kok dia nggak bisa ngerti yang kayak beginian sih?”

Untuk James, saya merasa sedih, ia ternyata anak yang dipercaya sebagai anak yang menyusahkan dan hanya membuat pusing orangtua. Padahal kami melihat bahwa sebenarnya James pun mau dan mampu berjuang memperbaiki dirinya.

Setengah bulan setelah pembicaraan dengan sang ayah, James kembali ke pola lamanya sebagai anak pemberang, di dalam percakapannya dengan pengajar, James berkata, “papa bilang aku anak nakal kok, ya memang aku anak nakal, mau diapakan lagi!” Jawabnya ketus dengan sorot mata tajam yang marah.

Menuai apa yang anda percaya

Sebut saja Ika, anak perempuan mungil yang lucu, berusia 6 tahun. Ika adalah anak yang cerdas, namun bila beraktivitas, ia terlihat kaku. Pada aktivitas melompat, Ika menangis tidak mau melakukan lompatan, ia berkata, “aku kan nggak bisa melompat.” Ika terisak-isak. “Bisa kok!” Ujar pengajar. “Nggak bisa! Mama bilang pinggul aku terlalu besar! Aku nggak bakal bisa melompat!” Tangis Ika menjadi-jadi. Melihat bentuk pinggulnya, malah kami percaya, jika tumbuh menjadi seorang gadis nantinya, Ika akan memiliki bentuk tubuh yang indah. Namun tidak etis jika mengatakan bahwa kata-kata mama Ika tentang dirinya itu salah. Akhirnya setelah tangis Ika mereda, pengajar membimbing lembut tangannya untuk melompat. Ika pun berhasil melompat, ia sendiri terkejut melihat dirinya bisa melompat. Kemudian ia melompat-lompat sendiri tanpa disuruh.
Apa yang anda percaya bagi putra-putri anda akan anda tuai hasilnya. Ada ibu yang tidak menyerah dengan anaknya yang autis, akhirnya anaknya bisa bersosialisasi dengan orang-orang normal. Ada ibu yang percaya bahwa anaknya pasti jadi orang berhasil walaupun lingkungannya tidak mendukungnya, nyatanya, anaknya benar-benar jadi orang berhasil.
Janganlah anggap remeh tentang apa yang anda percayai bagi putra-putri anda. Percayalah hal yang baik! Maka hal baik pulalah yang akan anda tuai.

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
FB fanpage: Yacinta Senduk
Blogs:
www.yacintasenduk.blogspot.com
www.yacintasenduk.wordpress.com
Follow twitter: @Yacinta_Senduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian

Bunda BELANJA atau PASANG IKLAN GRATIS:
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com

Sentuhlah Anak-anak Sampai Kapan pun juga

Merasa dikasihi tidak melulu harus dengan kata-kata. Tindakan membelai, mencium, memeluk, mencolek atau menggelitiki anak, ini juga merupakan sentuhan-sentuhan indah yang tidak terlupakan. Sayangnya, sentuhan fisik ini sering berhenti rata-rata saat anak berusia 7 atau 8 tahun. Di usia masuk Sekolah Dasar itu para orangtua lebih disibukkan dengan urusan belajar anak ataupun pemenuhan kebutuhan lainnya. Seiring dengan kesibukan tersebut, sentuhan fisik hilang digantikan oleh perintah, nasihat dan rutinitas.
Di banyak kasus, ketika anak berusia 13 tahun-an, orangtua mengeluh betapa sulitnya mendekati anak-anak mereka yang telah tumbuh dewasa tersebut, mereka sulit dimengerti, sulit diajak bicara.
Tindakan memberi sentuhan fisik kepada anak-anak lebih bersifat terbuka dan menerima. Sedangkan memberi perintah dan nasihat, walaupun memang harus dilakukan, sifatnya lebih seperti ’menolak’, baru ketika anak sadar bahwa perintah dan nasihat itu baik adanya, ia mau kembali dekat dengan orangtua, tetapi anak sering membutuhkan beberapa waktu untuk merenungkan hal ini, sehingga tidak bersifat langsung.

Sebagai orangtua, memberikan perintah dan nasihat, adalah wajib, namun sangat penting juga untuk tetap membina hubungan dekat yang terbuka dengan anak. Salah satunya adalah dengan sentuhan fisik. Jika dari usia 8 tahun anak sudah jarang dibelai atau dicium, lalu saat usia 13 tahun anda mengeluh mereka sulit diajak berkomunikasi, berarti, sudah 5 tahun ada suatu hubungan samar yang hambar yang harus diperbaiki lagi. Anak remaja yang haus belaian kasih sayang, laki-laki atau perempuan, akan mudah terjatuh di dalam dunia seks bebas. Mereka akan mencari ’siapa saja’ yang mau membelainya, walaupun mungkin bukan orang baik-baik. Jika tidak jatuh di dalam dunia seks bebas, mereka rentan menjadi pribadi yang dingin dan bermasalah di dalam rumah tangga ataupun di dalam dunia kerjanya kelak.
Jangan hentikan sentuhan fisik, sampai kapan pun. Sentuhan fisik akan menajamkan kecerdasan emosi anak terutama untuk meningkatkan empati saat anak bersosialisasi. Jika anda terlanjur menghentikannya, anda bisa kembali memulainya kembali. Jika canggung, mulailah dengan menepuk akrab pundak anak ataupun mencium keningnya. Mulanya anda atau anak anda mungkin merasa risih, tapi lama-kelamaan akan terbiasa. Hubungan yang manis kembali terjalin.

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
FB fanpage: Yacinta Senduk
Blogs:
www.yacintasenduk.blogspot.com
www.yacintasenduk.wordpress.com
Follow twitter: @Yacinta_Senduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian

Bunda BELANJA atau PASANG IKLAN GRATIS:
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com

Ibu Yang Mudah Bingung


Seorang ibu berparas manis berbicara dengan saya, kata-katanya lembut dan tampak ia sangat perduli dengan keluarganya. 10 menit pertama adalah waktu yang menyenangkan berbicara dengannya. Saat mulai menceritakan tentang anak-anaknya, terlihat beberapa kali ia mulai terbata-bata.. “Anak saya itu adalah anak yang baik. Kalau diberitahu, dia mau menurut. Mudah sekali diberitahu… Tapi itu, bu, kadang-kadang, dia menjengkelkan.. hhmm, kalau sudah datang ngadatnya.. Saya sampai kehilangan kata-kata harus berbicara apa dengannya. Sering saya jadi sangat emosi, saya pukul dia supaya diam, eh… Bukannya diam, tapi malah menyahut balik. Saya sangat sayang sama anak saya, bu… Tapi mengapa ya, ada juga kala dia seperti memberontak. Susah diberitahu! Saya kan jadi sedih, bu. Apa saya salah mendidik anak. Anak saya itu seharusnya tahu, betapa susah payah saya setiap hari berusaha menyayanginya. Salah saya dimana ya? Apa saya adalah ibu yang bodoh?

Wah! Kesan 10 menit pertama saya terhadapnya yaitu kesan yang sangat positif, kini berubah setelah mendengar kata-katanya yang sangat tidak beraturan. Tadinya ia fokus pada sifat anaknya yang baik, lalu lompat ke sifat anaknya yang menurutnya tidak baik, lalu lompat lagi kepada dirinya sendiri dimana ia mencoba untuk membuktikan bahwa ia sangat menderita dengan kelakuan anaknya. Sudah bukan di tahap ia kewalahan, tapi di tahap ia berpikir bahwa ia dibuat sengsara oleh kelakuan anaknya.

Tidak sedikit para ibu yang bingung seperti ini. Hidup memang tidak selalu mudah, tetapi bagi orang-orang berkarakter kuat, hidup justru membuatnya lebih tegar, namun bagi orang-orang berkarakter lemah, kejadian-kejadian di dalam hidup bahkan yang sederhana sekalipun seringnya mengacaukan hati dan perasaan. Kelabilan jiwa orangtua sangat berpengaruh negatif pada kehidupan anak sekalipun bila anak itu mempunyai otak yang pandai. Saran saya, latihlah diri anda untuk berfokus pada hal yang positif, ini berbeda dengan hanya berpikir positif. Seperti ibu tadi saya berkata padanya, ibu, tetaplah ingat bahwa anak ibu adalah anak yang baik. Jika ada waktu dimana ia berlaku kurang baik, ibu harus tetap ingat bahwa anak ibu adalah anak yang baik yang hanya perlu diberikan pengarahan ataupun teguran dengan tegas namun tenang.

Dua bulan kemudian, anak ibu itu menulis, “mamaku adalah mama yang paling baik sedunia.”


Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
FB fanpage: Yacinta Senduk
Blogs:
www.yacintasenduk.blogspot.com
www.yacintasenduk.wordpress.com
Follow twitter: @Yacinta_Senduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian

Bunda BELANJA atau PASANG IKLAN GRATIS:
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com

Ayah yang takut menjadi bodoh


Saya pernah punya seorang kenalan, seorang konsultan hebat, pria yang berhasil. Ia telah mempunyai keluarga, istri yang cantik, anak-anak yang manis, dengan tingkat ekonomi yang sangat baik. Kesan itu saya tangkap dari beberapa foto keluarganya yang selalu dibawanya di dalam dompet. Kebetulan dia bukan orang Indonesia, dia seseorang yang pekerjaannya mengharuskannya pergi ke beberapa tempat di dunia.

Suatu hari ia berkata kepada saya, ”kamu tahu, kemarin ketika saya pulang, anak bungsu saya menangis. Istri saya bilang, anak saya itu takut pada saya, karena saya jarang dilihatnya sehingga ia tidak mengenali saya. Ya, sudah, karena capek, saya tidur saja..” Lalu teman saya itu tertawa. Saya cukup heran mengapa ia tertawa lepas. Kalimat yang baru diucapkannya itu adalah kabar yang tidak baik, menurut saya. Tapi tampaknya, itu hal yang lucu baginya...

Tidak tahan, saya  bertanya,”kamu tidak sedih, anak bungsumu tidak mengenalimu sebagai ayahnya.” ”Tidak, tidak apa-apa. Kan, ada ibunya. Saya merasa saya sudah melakukan kewajiban saya, saya tidak bermain serong, saya pulang sebulan sekali selama 3 hari. Dan istri saya pun mengerti keadaan saya.” Lanjutnya tenang.

”Oh! Maaf, berarti hanya pola pikir saya saja yang berbeda. Saya hanya merasa aneh, jika kamu tidak merasa sedih, dianggap sebagai orang asing oleh anakmu. Melihat tadi kamu tertawa, saya heran tampaknya kamu merasa keadaan itu biasa-biasa saja bagimu.” Jawab saya.

”Saya seorang yang sangat hebat di dalam pekerjaan saya dan saya sangat mencintai pekerjaan saya. Sebenarnya, setiap pulang ke rumah, saya khawatir menjadi bodoh, karena saya merasa saya bodoh sebagai ayah. Saya tidak tahu bagaimana menjadi ayah yang baik. Dan itu membuat saya cemas. Untuk itulah saya percayakan perihal anak-anak saya kepada istri saya.” Jawabnya datar.

Saya menjawab, ”Anak-anak membutuhkan ayah yang hadir. Bisa secara fisik, bisa secara hati... Ada ayah-ayah yang sulit bertemu dengan anaknya, namun setiap bertemu, ia benar-benar menghabiskan waktu dengan anaknya dan selalu berusaha berbicara dengan anaknya melalui telepon jika tidak berjumpa. Itu artinya, hadir secara hati dan anak-anak tidak melupakannya begitu saja. Kamu tetap bisa jadi pekerja yang hebat dan dekat dengan anak-anakmu atau kamu bisa jadi pekerja yang hebat dan dilupakan bahkan dibenci oleh anak-anakmu. Pilihlah pilihan yang terbaik! Sebelum kamu benar-benar menjadi bodoh.”

Setengah tahun kemudian, saya mendengar, pria itu telah kembali ke negaranya dan menetap di sana... dan ia baru saja mendapat promosi ke jenjang yang lebih baik. Saya yakin ia telah memilih untuk menjadi ayah yang hadir...


Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
FB fanpage: Yacinta Senduk
Blogs:
www.yacintasenduk.blogspot.com
www.yacintasenduk.wordpress.com
Follow twitter: @Yacinta_Senduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian

Bunda BELANJA atau PASANG IKLAN GRATIS:
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com

Saat Ina memberi maaf

Seorang anak remaja putri, berusia 14 tahun, Ina, yang selalu ceria, suatu hari kesal pada pelatih, ketika diberi tugas untuk berbicara dengan ayahnya. Tugasnya hanya sederhana, yaitu menanyakan pada ayahnya, sifat-sifat Ina yang mana yang harus diperbaikinya.
”Aku nggak mau melakukan tugas ini, coach. Pokoknya, aku nggak mau!” Protesnya.
”Loh, ini tugas mudah sekali kok, hanya tanyakan ayah hal apa yang bisa Ina perbaiki. Ini akan berguna untukmu.” Kata pelatih.
”Ah! Enggak! Pokoknya aku tidak mau! Titik!” Katanya marah..
 ”Kenapa Ina tidak mau mengerjakan tugas mudah ini?” ”Coach, aku sudah tahu jawabannya, papi akan bilang agar aku tidak boleh sembrono, tidak boleh ceroboh, tanganku harus bersih jika pakai komputer, tempat sampah kalau sudah penuh harus dibuang, kalau wastafel basah harus dilap... Pasti itu jawabannya.” Kata Ina.
”Loh? Ina kan belum menanyakannya.”
 ”Tapi aku kenal sekali papiku.” Sahut Ina segera.
”Kalau belum pernah dicoba, kita tidak tahu hasilnya, Ina.”...
”Tapi aku tidak terlalu dekat dengan papiku. Aku hanya dekat dengan mamiku, coach. Aku pasti berbuat kesalahan jika dekat papi, atau paling tidak, papi pasti menemukan kesalahanku.” Jawabnya kesal.
”Bagaimanapun, coach akan sangat menghargai, jika Ina sudah menunjukkan usaha, bahwa Ina sudah berusaha bertanya pada papi.” Kata pelatih.
”Tugas yang lain aja, coach, tugas yang ini mission impossible banget deh!” Kata Ina.
”Coach tidak percaya bahwa ini tugas mission impossible jika Ina belum memperlihatkan usaha Ina.” Kata pelatih.

Saat mengumpulkan tugas, Ina menyerahkan tugasnya dengan berlinang air mata. Pelatih membaca tulisan papi Ina, ada serentetan daftar dimana papinya meminta agar Ina mengubah sifatnya. Semua yang Ina katakan sungguh benar, dari daftar, jangan ceroboh, cuci tangan sebelum memakai komputer, jangan letakkan kulit pisang di atas meja, jangan melengos jika diajak bicara... Dan masih ada banyak daftar jangan dari papi Ina. Ternyata... Inilah yang membuat Ina selalu merasa ditolak oleh papinya, sehingga ia tidak pernah mau bicara dengan sang ayah, walaupun ia adalah ayah kandungnya.

Kami mencoba bicara dengan ibunya Ina, ibu Ina mengatakan bahwa suaminya memang seorang perfeksionis. Belum sempat pelatih berbicara dengan Ina, suatu hari... Ina berkata ”Aku sudah bicara dengan papi-ku. Aku bilang, Ina sayang papi, dan Ina akan coba menuruti semua larangan-larangan papi supaya papi senang.” Kata Ina.
”Lalu apa kata papi?” Tanya pelatih...
”Papi bilang, papi minta maaf sama Ina karena terlalu banyak memberikan syarat. Ina harus tahu kalau papi sebenarnya sayang sama Ina. Lalu, tadi malam, kami pergi makan malam bareng. Tumben loh coach, papi tidak marah waktu kulit lemper kutaruh di atas meja food court.. Kata papi, mulai sekarang, papi ingin meluangkan banyak waktu denganmu, bukan dengan kecerobohanmu. Nah! Menurut coach, kenapa papi berubah?” Tanya Ina..
”hhmmm... Coach rasa, papi terkejut dan bangga dengan kebesaran hati anak putrinya yang mau memaafkannya.” Ina pun tersenyum gembira.


Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
FB fanpage: Yacinta Senduk
Blogs:
www.yacintasenduk.blogspot.com
www.yacintasenduk.wordpress.com
Follow twitter: @Yacinta_Senduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian

Bunda BELANJA atau PASANG IKLAN GRATIS:
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com

Jika Opa harus bercerita...

Suatu hari, seorang bapak yang baru saya kenal bertanya pada saya, ”Tahukah anda apa keinginan terbesar saya?” Saya menggeleng tidak tahu. ”Hhmm, saya ingin sekali, benar-benar ingin sekali, bisa kembali ke masa lalu?” Katanya sungguh serius.
            ”Untuk apa kembali ke masa lalu?” Saya penasaran
            ”Sekarang ini, saya sedang menghindari cucu saya, padahal saya sangat sayang padanya... Hampir tiap sore kami menghabiskan waktu di halaman belakang membuat macam-macam mobil-mobilan dari kayu.” Kata bapak itu semakin membuat saya penasaran.
            ”Anda tahu mengapa saya menghindarinya sekarang dan saya terpaksa harus menumpang tidur di rumah anak saya yang lainnya?” Tanyanya lagi yang harus saya sambut dengan gelengan kepala lagi.
            ”Cucu saya bertanya, pernahkah opa jadi anak kecil? Atau pernahkah opa jadi orang yang lebih muda dari sekarang? Awalnya saya bingung mengapa ia bertanya demikian. Lalu ia menjawab, sebab opa tidak pernah bercerita tentang masa lalu opa, berbeda dengan opa temannya yang senang sekali bercerita tentang masa mudanya.” Bapak itu kemudian diam.
            ”Dahulu saya adalah seorang pemabuk dan penjudi. Selama 25 tahun saya hidup membuat susah istri dan anak saya.. Saya baru bertobat ketika saya mengalami struk dan sempat koma, setelah itu saya ditampung tinggal di rumah anak tertua saya, anak yang dulu sering saya pukuli namun tidak pernah melawan.” Katanya.
            ”Sekarang, saya tidak tahu bagaimana harus menceritakan masa lalu saya pada cucu saya, sementara hampir setiap hari ia menanyakan hal itu. Saya sudah berusaha mengalihkan pembicaraan, namun ia tetap ingin saya bercerita. Oh! Apakah yang harus saya ceritakan???” Suara bapak itu meninggi dan ia menangis. ”Kalau saya harus bercerita, inilah cerita saya, ketika masih muda, opa selalu menghambur-hamburkan uang. Menampar oma dan merampas uangnya. Pergi berjudi dan menghabiskan waktu dengan perempuan malam. Berhari-hari tidak pulang ke rumah jika memang masih punya uang. Pulang ke rumah dan memukuli anak sulungnya yang walau ketakutan, selalu langsung berlari membukakan pintu bagi ayahnya yang mabuk dan memaksanya untuk memberikan uang walaupun itu adalah uang jajan yang dihematnya. Dan..” Bapak itu sudah tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Saya pun yang mendengarnya, tanpa sadar telah meneteskan air mata.
            ”Dan itulah mengapa saya sangat berharap saya bisa kembali ke masa lalu untuk diberi kesempatan memilih hidup yang baik... Agar saya bangga menceritakan hidup saya pada cucu saya.” Lanjutnya lagi.
            ”Bapak... Kembalilah kepada cucu bapak, katakan padanya, dahulu opa bukan orang baik-baik, opa menyusahkan banyak orang. Tapi saat ini, di waktu yang tersisa ini, opa ingin menyelesaikan hidup opa dengan melakukan hal-hal yang baik. Dan opa ingin menjadi opa yang baik bagimu...” Itu saja yang mampu saya katakan. Bapak itu menjabat tangan saya dan berlalu.

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
FB fanpage: Yacinta Senduk
Blogs:
www.yacintasenduk.blogspot.com
www.yacintasenduk.wordpress.com
Follow twitter: @Yacinta_Senduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian

Bunda BELANJA atau PASANG IKLAN GRATIS:
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com

Ayo Jawab yang Jujur

Sering sekali di dalam seminar saya, para peserta, yang merupakan orangtua murid berpikir akan mendapatkan hal-hal baru yang canggih. Namun akhirnya, mereka sering mendapatkan hal-hal lama yang terlupakan yang ternyata mempunyai kekuatan yang lebih baik dari canggih. Hampir selalu, di dalam seminar saya, saya tanyakan kepada para ibu, ”ayo para ibu, jawab yang jujur, siapa yang setiap sehabis diantarkan suaminya pergi ke suatu tempat, seperti ke mal, akan mengatakan, ’terimakasih, Pa, aku sudah diantarkan ke mal. Aku senang sekali...?’” Jika saya menanyakan hal ini, reaksi yang langsung saya dapatkan adalah ruangan yang tertawa heboh. Hhhmm, padahal saya tidak mencoba melucu. Sementara para bapak, kebanyakan kepalanya manggut-manggut setuju dengan saya atau ada yang mencolek lengan istrinya tanda senang karena posisinya sedang saya bela. Kemudian, saya harus mengulangi 2 atau 3 kali pertanyaan yang sama ini karena belum ada yang menjawab, ada yang asyik tertawa tapi banyak yang terlihat sedang memikirkan hal itu. Akhirnya akan terdengar celetukan-celetukan peserta yang syukurlah, kebanyakan sangat jujur.

Ini beberapa jawaban yang sering saya dapat:
            ”Duh! Suami saya bisa pingsan kalau saya bilang begitu.”
            ”Ya, kita kan sudah sangat mengenal satu sama lain, nggak perlu resmi gitu!”
            ”Nggak lah! Itu aneh banget!”
Lalu saya berkata, ”Baiklah kalau begitu, lalu kenapa kalau anak ibu mendapat sesuatu dari gurunya atau dari temannya, lantas ibu berusaha menyuruh anak ibu untuk bilang ’terimakasih’?” Suasana ruangan sejenak akan menjadi serius.

Anak-anak kita adalah penyontoh yang baik, mereka tidak hanya menyontoh kita untuk tidak mengucapkan terimakasih, lebih jauh lagi mereka menyerap asumsi orangtuanya. Jika kata ’terimakasih’ tidak sering didengar di dalam kehidupan keluarganya, mereka akan berpikir bahwa kata ’terimakasih’ adalah kata-kata resmi beretika saja, bukan kata-kata tulus yang sebenarnya mencerminkan kelembutan hati.

            Suatu hari seorang ibu yang pernah hadir di seminar saya menghampiri saya dan berkata, ”Setelah 9 tahun pernikahan kami, akhirnya suami saya menatap saya kembali.”
            ”Wah! Apa yang terjadi, bu?” Tanya saya.
”Sehabis pulang dari pesta saudara saya, di mobil saya berkata... Terimakasih, Pa, hari ini saya senang Papa mau mengantarkan saya, Papa adalah suami yang baik... Lalu suami saya menoleh dan menatap saya, dia terlihat kaget sekali... Ia tidak berkomentar tentang ucapan terimakasih saya, tetapi banyak hal yang sangat menyenangkan yang kami bicarakan malam itu, dimana tadinya sudah lama saya ingin bercerai darinya.”

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Principal of Yemayo Advance Education Center
FB fanpage: http://www.facebook.com/pages/Yacinta-Senduk/124113834349748
Blogs:
www.yacintasenduk.blogspot.com
www.yacintasenduk.wordpress.com
Follow twitter: @Yacinta_Senduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian

Bunda BELANJA atau PASANG IKLAN GRATIS:
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com

Berkenalan Dengan Anak-anakku


Ini adalah kisah unik seorang kenalan saya yang saya tuangkan di dalam bentuk tulisan.
            Hari itu, aku harus mengijinkan istriku pergi ke Kalimantan untuk menjenguk ibunya yang sedang sakit. Selama ini, istriku telah menjalankan tugasnya dengan sangat baik di dalam mengurus rumah tangga, ia tahu benar bahwa aku tidak mau direpotkan dengan urusan rumah dan anak-anak.
            ”Baik, kamu boleh pergi, tapi kamu harus memastikan bahwa aku tidak harus mengurus rumah dan anak-anak.” Kataku pada istriku.
            ”Ya.. Aku akan pastikan hal itu.” Jawabnya.
Keesokannya, aku memutuskan untuk makan malam di rumah karena kolegaku membatalkan acara makan malam bersama. Makan malam di rumah adalah hal yang tidak biasa sebab seringnya aku tiba di rumah pukul sebelas atau duabelas malam. Untuk pertama kalinya di dalam hidupku aku makan malam di meja makan bersama kedua anakku tanpa ditemani istriku. Sisi kanan meja makan ini menjadi kosong tanpa kehadiran ibu anak-anakku. Di sisi kiri meja makan telah duduk anak-anakku, Riko dan Ela (bukan nama sebenarnya).
            ”Ayo Ela, pindah di tempat duduk mama saja supaya mudah kita mengambil makanan.” Kataku. Putriku yang berusia 8 tahun itupun segera menuruti permintaanku.
            ”Ayo sekarang makan...” Kataku. Aku bersiap untuk mengambil nasi tetapi aku melihat kedua anakku segera berdoa sebelum makan, oh! Ya, aku lupa akan kebiasaan ini, kebiasaan berdoa yang diajarkan oleh ibu mereka. Malu hati, aku pun ikut berdoa. Setelah itu, aku mulai mengambil makanan diikuti oleh Riko yang menyendokkan nasi ke piringnya. Tapi kemudian, aku mendapati Ela sedang melamun ke arahku. 
”Ayo Ela, makan...” Ajakku. Wah! Jangan sampai anak ini berulah tidak mau makan, aku bisa marah, dalam hatiku agak mengumpat.
            ”Papa..” Kata Ela. ”Papa.. Tangan papa bagus ya...” Katanya lagi.
            ”Hah?” Aku kaget hampir tersedak.
            ”Ela baru tau kalau tangan papa bagus... baru kali ini Ela lihat dari dekat.” Lanjut Ela lugu. Aku kaget dan bingung, sesuatu di dalam hatiku merasa terusik, tidak tenang luar biasa. Sambil meneruskan makanku aku menyuri pandang pada Ela, kulihat rambut ikal sebahunya yang tebal, lesung pipit di wajah kirinya, mulut mungilnya yang mengunyah makanan pelan-pelan.. ”Papa juga baru tahu kalau Ela sangat cantik... baru kali ini lagi papa melihatmu dari dekat.” Kataku dalam hati. Aku tidak berani mengutarakannya, hatiku menjadi begitu sedih mengingat tahun-tahun dimana telah kuhindari anak-anakku. Walau kaku dan canggung, hari itu kuputuskan untuk mengenal mereka lebih dekat lagi... Semoga belum terlambat.


Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Principal of Yemayo Advance Education Center
FB fanpage: http://www.facebook.com/pages/Yacinta-Senduk/124113834349748
Blogs:
www.yacintasenduk.blogspot.com
www.yacintasenduk.wordpress.com
Follow twitter: @Yacinta_Senduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian

Kembali Kepada Ayah Anak-anakku


            Seorang ibu yang akan menjemput 2 anak laki-lakinya, menyempatkan diri berbicara pada saya.
            ”Saya hanya ingin bertanya sebentar.. Apakah jika di rumah ada orang yang suka marah-marah dan banting-banting barang, hal itu bisa menyebabkan trauma pada anak?” Tanya ibu itu.
            ”Apakah di rumah ibu ada orang yang demikian?” Tanya saya. Ibu itu berkata, ”Mertua perempuan saya. Ia seorang yang histerikal, jika berbicara, sangat pedas dan kemauannya harus dituruti. Jika tidak, maka ia akan berteriak-teriak, membanting barang dan beberapa kali mengancam akan bunuh diri... Saya khawatir dengan anak pertama saya, dia suka panik, mudah keringat dingin, dan ketakutan.” Katanya lagi.
            ”Apakah suami ibu mengetahui hal ini?” Kembali saya bertanya.
            ”Bulan lalu saya bawa 2 anak saya pulang ke rumah orangtua saya. Saat itu saya berpikir bahwa saya harus meninggalkan suami saya karena ia tidak memilih untuk menyelamatkan kami. Setelah 1 minggu saya meninggalkannya, suami saya mengajak saya berbicara, dia bilang dia mengerti mengapa saya meninggalkannya yaitu agar anak-anak kami tidak selalu ketakutan karena ulah nenek mereka... Suami saya bilang, ia tidak bisa meninggalkan ibunya yang hanya merasa cocok tinggal dengannya ketimbang saudaranya yang lain, tetapi, itu tidak berarti ia tidak sayang pada anak dan istrinya... Suami saya sudah berulang kali memberi pengertian pada ibunya tentang perilakunya, tapi ibunya sulit berubah... Suami saya pun berkata bahwa ia tidak bisa terus-menerus meminta pengertian dari orang yang tidak bisa mengerti, jadi ia datang pada saya, istrinya, orang yang diharapkannya lebih bisa mengerti dan mau berjuang menghadapi hal ini.” Papar sang ibu.

”Saya putuskan untuk kembali pada suami saya, saya harus memberi teladan pada anak-anak saya untuk tetap menghormati orangtua dengan segala kekurangan dan kelebihannya... Saya pun tidak ingin memisahkan anak-anak saya dari ayah mereka... Sekarang, saya hanya ingin menanyakan, benarkah anak saya bisa trauma?”

Saya menjawab, ”Saya mengerti ini adalah dilema. Tetapi saya melihat besarnya cinta kasih suami-istri yang mau berjuang untuk bersatu, saya sangat yakin ibu dan suami dapat melindungi anak-anak dengan baik walaupun perlu perjuangan.” Saya menjawab tanpa ragu, tanpa nasihat.
Jawaban saya sebenarnya bukan tanpa alasan; suami yang mengajak istrinya berbicara secara baik-baik, istri yang kembali pada suaminya dengan alasan yang benar... Tentulah mereka akan berjuang juga mencari cara melindungi anak sulung mereka.. Itulah pembicaraan saya dengan ibu itu 5 tahun yang lalu, kini saya mendapat kabar bahwa 2 anak laki-lakinya berprestasi sangat baik di sekolah.

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Principal of Yemayo Advance Education Center
FB fanpage: http://www.facebook.com/pages/Yacinta-Senduk/124113834349748
Blogs:
www.yacintasenduk.blogspot.com
www.yacintasenduk.wordpress.com
Follow twitter: @Yacinta_Senduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian


Masih Banyak yang Takut Bermimpi

Membawakan topik mengenai mimpi ataupun cita-cita di dalam kelas, ternyata sungguh merupakan suatu tantangan. Tidak hanya untuk usia yang lebih muda, untuk usia remaja juga pembahasan topik ini memerlukan satu sesi dan kesabaran tersendiri, mereka benar-benar tampak kurang bersemangat. Aku nggak tau gimana, nggak usahlah bercita-cita yang terlalu muluk, nggak bakal tercapai deh, ngapain sih musti mengada-ada! Nanti kalo nggak tercapai, aku bisa stress nih. Ini semua alasan yang banyak kami terima dari murid. Pengajar tanpa lelah terus memberikan motivasi, mulai dari memberikan contoh orang-orang yang berhasil ataupun menyebutkan orang-orang terkenal yang sukses yang masih hidup berikut dengan perjuangan-perjuangan gigih mereka. Beberapa murid malah mencoret apa yang telah mereka tulis sendiri karena menganggap mimpi-mimpi yang mereka tulis itu tidak ada artinya. Yah, kalau kalian sendiri tidak percaya dengan mimpi kalian, jelaslah mimpi itu tidak dapat terwujud. Kalian harus memikirkannya, menulis dan percaya akan apa yang sudah kalian tulis. Kata seorang pengajar.

Saya yakin bahwa keengganan bermimpi ini tidak hanya terjadi pada para murid, namun mereka yang ber-usia puluhan tahun juga, termasuk para orangtua, masih sangat banyak yang takut untuk bermimpi. Alasan terbesarnya adalah takut gagal.

Di suatu kesempatan saya menonton kisah perjuangan Britney Spears, penyanyi terkenal Amerika yang telah meraup uang jutaan dollar. Melihat keberhasilannya sekarang ini tidak lepas dari perjuangan panjangnya yang gigih dan dukungan lingkungannya yang luar biasa. Terlepas dari kontroversial yang diciptakannya akan gaya-gayanya yang provokatif, yang mencolok dari rangkaian kisah keberhasilannya adalah fokus kuat dirinya di dalam mengejar mimpinya. Sejak kecil dirinya telah mempunyai mimpi sejernih kristal bahwa ia ingin menjadi penyanyi berhasil. Ia mempelajari dunia menari dan menyanyi secara fokus. Beberapa kali mengikuti kejuaraan menyanyi dia tidak pernah menjadi juara utama, ketika menjadi penari ia hanya menjadi penari latar, sampai dengan ia mendapat tawaran menyanyi di album pertamanya, promosi yang dilakukan masih dari mal ke mal dan banyak orang tidak memperhatikan ia bergaya di panggung. Ketika ia telah menjadi mega star banyak orang berkata bahwa Britney sangat beruntung dikelilingi oleh orang-orang pintar yang berhasil mengorbitkannya. Saya tidak dapat sepenuhnya setuju dengan predikat kata ‘beruntung’ ini karena nyatanya saya pun menangkap esensi perjuangan dan kenekatan Britney di dalam mewujudkan mimpinya. Kerja keras dan disiplin yang luar biasa dalam hal berlatih olah vocal, tour, menari, rekaman dan segala sesuatu yang telah rela dikerjakannya termasuk patuh menyimak dan melakukan arahan-arahan para koordinatornya. Sering ia terlihat kelelahan di depan kamera, tetapi tetap harus tersenyum untuk menciptakan citra yang segar. Ia berani bermimpi, berani gagal, pula berani sukses, tetapi usahanya ini sangat tidaklah mudah.

Perlunya mimpi
Tunjukkan jalanku, wahai kelinci! Tanya Alice kepada kelinci.
Kemanakah tujuanmu? Tanya kelinci.
Aku sendiri tidak tahu. Jawab Alice.
Jika demikian, ambillah jalan mana saja, tidak masalah.

Inilah cuplikan percakapan pada kisah Alice in Wonderland. Jika kita sendiri tidak tahu akan kemana maka jalan manapun yang kita ambil, OK saja dijalani, termasuk bila jalan itu akhirnya akan membawa kita ke jurang maut seperti seks bebas dan narkoba. Memiliki mimpi berarti mempunyai suatu tujuan jelas apa yang ingin kita capai, walaupun di dalam kenyataannya kita akan menemui rintangan, kita dapat berjuang mencari jalan lain untuk ditempuh. Semakin jelas mimpi kita memang bukan membuat perjuangan kita semakin mudah, namun kita tahu benar atau tidaknya arah perjuangan kita.

Demikian pula di dalam dunia perkawinan, begitu banyak pasangan yang tidak mempunyai mimpi yang jelas. Bila pun ada, sering hanyalah mimpi pribadi yang tidak sinkron dengan mimpi pasangannya karena tidak dikomunikasikan dengan baik pada awalnya. Mimpi pernikahan banyaknya hanya dashyat sampai pada kesibukan dan visualisasi indahnya pesta pernikahan, lalu saat memasuki bahtera rumah tangga, banyak pasangan yang kehilangan arah dan berakhir pada perceraian.

Bukan tidak mungkin kita perlu merevisi mimpi kita menjadi lebih besar lagi jika kita ketahui bahwa mimpi yang kita tetapkan ternyata kurang besar dibandingkan kemampuan yang kita miliki. Namun mungkin juga kita perlu merevisi mimpi kita agar sesuai dengan kemampuan kita karena ternyata mimpi tersebut terlalu biasa. Bila pada saat bermimpi kita telah meragukannya, besarlah kemungkinannya mimpi itu memang hanya isapan jempol saja. Seandainya anda bermimpi untuk dapat pergi ke matahari dan percaya dapat melakukannya, maka tetapkanlah mimpi tersebut, kedengarannya memang gila! Sebaliknya, jika anda tidak percaya pada mimpi yang sederhana, contohnya bermimpi untuk mampu membahagiakan orang-orang tercinta di sekeliling anda, jelas mimpi ini tidak akan terwujud. Jadi Bermimpi dan percayalah! Mimpi anda akan menentukan langkah anda selanjutnya.

95% dalam mencapai segala sesuatu dilakukan dengan mengetahui apa yang anda inginkan dan berupaya untuk mencapainya.
= Brian Tracy

Artikel ini ditulis tahun 2008

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Principal of Yemayo Advance Education Center
FB fanpage: http://www.facebook.com/pages/Yacinta-Senduk/124113834349748
Blogs:
www.yacintasenduk.blogspot.com
www.yacintasenduk.wordpress.com
Follow twitter: @Yacinta_Senduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian

Dilema sang ibu yang bekerja


Sebutlah ibu Arni namanya, seorang wanita berpenampilan rapi yang selalu kelihatan sibuk dengan segala macam urusannya. Ia terlihat tidak bisa diam, ada saja selalu yang diurusnya. Telepon genggamnya dari tadi berbunyi; kesibukan ibu Arni sungguh tidak terlihat dibuat-buat. Akhirnya ia mendapatkan waktu juga untuk berbicara dengan saya.
“Maaf nih, dari tadi telepon saya bunyi terus yah. Ya beginilah, urusan kantor saya memang banyak, sampai beberapa kali saya ingkar janji dengan anak saya karena waktu itu saya ada deadline sehingga pulang larut malam.” Kata ibu Arni yang terlihat begitu salah tingkah. Terlihat ia sangat antusias dan gembira mengatakan dirinya sebagai seorang wanita yang sibuk, namun mukanya pun terlihat tidak nyaman dan tersirat rasa bersalah saat mengatakan bahwa ia harus ingkar janji dengan buah hatinya.

“Duh! Saya salah yah? Gimana ya, saya lupa diri terus kalau bekerja. Tapi gimana yah, saya sangat menyukai pekerjaan saya, tapi saya sadar sih, seharusnya saya lebih menyediakan waktu bagi anak saya.” Terdengar suara ibu Arni meneruskan kata-katanya terdahulu. Saya yang diajaknya bicara belum mengemukakan apa-apa, tapi tampaknya ibu Arni yang berparas manis ini seperti ingin mengakukan dosa-dosa yang dilakukan terhadap anaknya.

Curhat ibu Dina lain lagi, ia merasa sangat bersalah karena harus kembali bekerja lagi setelah mengambil 3 bulan cuti melahirkannya.
“Saya merasa sangat tidak tenang meninggalkan anak saya. Saya sedih kalau mengingat bahwa kemungkinan bukan saya yang akan mendengarkan anak saya mengucapkan ‘ma’ pertama kali. Saya sering merasa cemburu dengan pengasuh saya karena dia justru bisa dekat dengan anak saya di rumah.” Nadanya terdengar sangat sedih. Saya dapat merasakan kekacauan hatinya. Cerita ibu Rima berbeda lagi, ia harus mendapat surat peringatan dari perusahaan tempat bekerjanya karena ia terlalu sering memakai telepon perusahaan untuk menelpon pengasuh anaknya di rumah. Inilah dilema-dilema para ibu yang bekerja. Banyak di antara mereka yang bertanya kepada saya, “salahkah saya bekerja dan meninggalkan anak-anak saya?”

Saya agak kurang setuju dengan pertanyaan ini, sebab kalau dijawab ‘salah’, maka perasaan sang ibu akan semakin tertekan, pekerjaannya semakin kacau dan anaknya pun semakin tidak nyaman memiliki ibu berhati kacau, tetapi kalau dijawab ‘tidak salah’, bisa jadi anak-anak akan tidak pernah merasakan sosok peran ibu yang normal di rumah.
Yang sangat menular dan dapat dirasakan oleh anak adalah ‘emosi’. Jika seorang ibu bekerja dengan gembira dan mampu membawa kegembiraannya ke rumah, maka emosi positif akan tertular pada anaknya. Masalahnya, untuk ibu yang ‘doyan’ kerja, ia hanya senang di tempat kerja, tetapi yang dibawa pulang hanyalah emosi kelelahan, tentu saja ini tidak baik dan tidak adil untuk anak.

Sementara untuk ibu yang terpaksa harus bekerja untuk memiliki double income dalam rumah tangga; juga sama kacaunya, di dalam pekerjaan ia tidak tenang, bertemu dengan anaknya pun terasa menjadi sangat berlebihan menumpahkan kasih sayang sebagai kompensasi rasa bersalahnya.

Di dunia ideal memang sebaiknya kaum ibu tinggal di rumah dan kaum bapak sajalah yang mencari nafkah, sehingga urusan rumah dan urusan mencari uang tidak tumpang tindih. Sayangnya permasalahannya tidaklah sederhana.
Jaman sekarang ini, bekerja bagi kaum wanita tidak melulu hanya untuk mencari uang, namun justru seringnya sebagai sarana aktualisasi diri berkarya dan berkreasi dan menambah luasnya wawasan.

Seorang ibu lain yang saya kenal mempunyai masalah lain lagi, saat ia telah memutuskan berhenti bekerja, ternyata anaknya merasa tertekan karena kehadiran sang ibu yang terlalu mendikte. Lalu, apa permasalahan yang sebenarnya? Yang terutama adalah kemampuan anda mengolah emosi. Para ibu yang sangat mencintai pekerjaannya, perlu menjaga kestabilan emosi anda untuk senang bekerja dan senang kembali ke rumah. Untuk ibu yang merasa ‘terpaksa’ bekerja, perlu juga menjaga kestabilan emosi untuk tetap bekerja dengan tenang dan mengatur emosi sedemikian rupa agar tidak terlalu meluap-luap di depan anak sehingga anak membaca anda sebagai ibu yang labil.

Tips untuk para ibu yang bekerja:
- Siapkan mental anda bukan mental ‘eight to five’, tetapi lebih dari itu, ‘eight to sleeping time’. Ingatlah bahwa setelah pekerjaan selesai, ada tugas mulia lain yang menunggu anda, yaitu berinteraksi dengan putra-putri yang rindu pada anda.
- Pulanglah dengan gembira, jika anda terlalu lelah, segeralah masuk ke dalam kamar dan tenangkan diri anda 10 hingga 15 menit; anda bisa merendam kaki dengan air panas, tiduran sebentar, namun, ingatlah bahwa putra-putri anda memerlukan anda, keluarlah dari kamar tidur dengan senyuman.
- Bawalah anak anda sesekali ke tempat kerja dan perlihatkanlah kesibukan anda. Anda bisa meminta anak anda membantu pekerjaan sederhana, seperti melipat amplop, menjepret kertas, dll; bila dilibatkan, anak bisa belajar mengerti kesibukan anda. Berikan pandangan positif dan gembira tentang pekerjaan anda, maka anak anda akan turut gembira juga mengetahui bahwa anda gembira melakukan pekerjaan anda.

Tidak seorangpun yang pernah memberikan
yang terbaik itu menyesalinya
= George Halas


Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Principal of Yemayo Advance Education Center
FB fanpage: http://www.facebook.com/pages/Yacinta-Senduk/124113834349748
Blogs:
www.yacintasenduk.blogspot.com
www.yacintasenduk.wordpress.com
Follow twitter: @Yacinta_Senduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian