Tulisan-tulisan ini...

Semua tulisanku diinspirasikan oleh kisah nyata, sungguh nyata, dengan nama dan beberapa hal telah kuganti untuk melindungi privasi orang yang bersangkutan. Tulisan-tulisanku ini tidak untuk mengangkat 'kecengengan' atau 'kesedihan' tetapi sebaliknya, kisah-kisah yang kutulis ini adalah kisah-kisah perjuangan yang walau tidak mudah namun akhirnya penuh kemenangan dari pribadi-pribadi yang berhati baik.

-Salam hormat & kasihku untuk semua keluarga Indonesia.

Berikan Kesempatan kepada Mereka Menjadi Orangtua


Ada banyak orangtua muda tinggal bersama dengan orangtua mereka setelah menikah, baik dengan orangtua istri maupun orangtua suami. Tentunya, di dunia yang ideal, kita menginginkan agar pasangan muda yang baru menikah bisa hidup di rumah sendiri dan membentuk suatu budaya kebiasaan sendiri di dalam keluarga baru tersebut. Sepasang suami istri saja, tanpa orangtua, berpotensi untuk berkonflik, apalagi jika harus ada orang lain di dalam rumah. Tentunya orangtua mereka sudah memiliki pola pikir, kebiasaan dan budaya sendiri, yang tidak selalu bisa cocok dengan kebiasaan dan sifat anak dan menantunya yang mempunyai cara hidup yang pastilah tidak bisa disamakan dengan cara hidup mereka.

Cukup banyak cerita bahwa sang ibu sering dibuat menjadi bingung, sebagai contoh, saat anak bayinya menangis, seorang ibu segera menggendong bayinya, kemudian suaminya menyuruhnya menaruh saja bayi mereka di tempat tidur, baru ditaruh di tempat tidur, tiba-tiba orangtua sang ibu, si nenek, datang segera mengangkat bayi tersebut. Sambil menimang bayi itu, sang nenek berdumal: ”Kalian jadi orangtua tidak becus!”

Inilah 3 orang bermaksud baik tetapi menjadi kesal semua.

Di dalam kasus tersebut di atas, sebaiknya, neneklah yang tidak boleh campur tangan. Ingatlah bahwa ini adalah waktu belajar bagi pasangan muda tersebut. Mereka perlu melewati masa-masa menjadi orangtua muda, dan sebaiknya biarkan saja orangtua muda itu menemukan teknik mereka sendiri mendiamkan tangis anak mereka. Waktu nenek dulu baru menjadi orangtua, pastilah juga akan berusaha keras untuk mempelajari bagaimana mendiamkan bayi yang menangis.

Jika anda adalah orangtua yang kebetulan tinggal bersama anak-anak anda yang sudah berumah tangga, sangat baik jika anda mengamati saja. Keinginan anda memberikan bantuan itu sangat baik, namun jika tidak diminta, sebaiknya anda mengamati saja. Biarkan anak-anak anda belajar mengasuh anak-anak mereka dengan cara mereka.

Kapan kakek dan nenek bisa membantu? Pertama, jika memang dimintakan bantuannya. Jika tidak diminta dan anda datang membantu, bantuan anda justru bisa membuat kedua orangtua yang sedang belajar itu, menjadi gugup. Kedua, dalam keadaan darurat, jika kedua orangtua sudah benar-benar tidak bisa menanganinya dan cucu anda terlihat di dalam bahaya, maka anda wajib membantu. Ketiga, anda bisa menanyakan kepada anak anda, dengan komunikasi terbuka, sampai batas mana anak anda mengijinkan campur tangannya. Dengan demikian anda akan tahu batas tindakan pro-aktif anda yang mana yang dapat ditolerir anak anda.

Kakek, nenek yang baik... Berikanlah ayah-ibu baru itu kesempatan untuk belajar menjadi orangtua...

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Principal of Yemayo Advance Education Center
FB fanpage: http://www.facebook.com/pages/Yacinta-Senduk/124113834349748
Blogs:
www.yacintasenduk.blogspot.com
www.yacintasenduk.wordpress.com
Follow twitter: @Yacinta_Senduk

Rumah Tangga yang Timpang


Seorang ibu berparas sangat cantik namun sungguh bertutur kata ketus, suatu hari datang kepada kami. ”Saya punya 3 anak, yang tertua itu pendiam, tidak percaya diri dan harus selalu disuruh-suruh. Yang kedua, pemberontak dan suka sekali melawan, sehingga sering saya pukul kalau tidak mau menurut. Yang bungsu, selalu hanya mau nempel pada papanya. Kalau saya bicara dengannya, maka ia akan menangis. Nah, saya mau mereka supaya jadi orang-orang yang normal.” Kata ibu itu.. Wah! Dalam hati saya berkata, mengapa ia menggunakan kata ”normal”? Ibu itu percaya bahwa keluarganya tidak normal? Hhhmmm... sungguh aneh.

Ketika 3 anak laki-lakinya mulai berlatih, perkataan ibu itu terbukti benar, yaitu anak yang pertama memang benar sangat pendiam. Yang kedua memang pemberang dan yang bungsu memang mudah mengeluarkan air mata. Setelah minggu ketiga, pelatih mengamati bahwa sebenarnya anak sulung yang pendiam namun pandai itu sudah mulai mau bertegur sapa, senyumnya pun terlihat lebih santai, kebetulan parasnya pun tampan. Suatu hari, anak laki-laki itu datang dengan sangat diam. Bahkan ia terlihat lebih diam dari sebelum kami bertemu. ”Mengapa hari ini kamu tidak menyapa coach?” tanya pelatih. Anak itu, benar-benar hanya diam... Sangat membuat pelatih keheranan.

Tanpa sengaja, dari pengasuh si bungsu, kami mendapat informasi bahwa di rumah itu, sang ibu memang sangat-sangat dominan. Sering marah-marah dan tidak boleh dibantah. Suaminya pun tunduk padanya.. Sang pengasuh berkata, ”pernah waktu anak kedua membantah dan habis dipukul ibunya, sang ayah hanya berkata, sudah dibilang, mama jangan dibantah. Kamu hanya akan membuat mama lebih marah... Ayah anak itu berkata dengan nada yang berbisik, takut ketahuan oleh istrinya.” Ternyata, sang istri adalah anak orang kaya, sementara suaminya, tadinya hanyalah pegawai ayah sang istri tersebut. Ketika sudah menikah pun suaminya tetap bekerja pada perusahaan mertuanya. Begitulah sang suami tetap terjebak dalam perannya sebagai pegawai daripada berperan sebagai suami di dalam rumah tangganya.

Kami tidak bisa terlalu menyentuh pola komunikasi orangtua yang kaku tersebut sehingga yang dapat pelatih lakukan adalah memberikan pengertian pada si sulung agar ia mampu melihat bahwa ia sebenarnya bisa mengendalikan hidupnya secara positif. Jika di rumah ia tidak bisa terlalu banyak berpendapat, namun di sekolah dan di antara teman-temannya, ia bisa berekspresi dan melihat hidup secara lebih luas lagi tidak hanya sebatas lingkungan rumahnya saja.

Cara ini cukup efektif, kebetulan si sulung adalah orang yang tidak sulit diberi pengertian... Namun, sesekali, tidak dipungkiri, tertangkap juga duka getir hatinya yang terlihat di ekspresi wajahnya.. Sungguh tidak menyenangkan bagi siapapun, untuk setiap hari pulang ke rumah suram sumber kepahitan hati... Hhmmm, ibu, sebenarnya, siapa sih yang tidak normal? Satu perilaku yang tidak seimbang, mengacaukan hati seluruh keluarga...

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Principal of Yemayo Advance Education Center
FB fanpage: http://www.facebook.com/pages/Yacinta-Senduk/124113834349748
Blogs:
www.yacintasenduk.blogspot.com
www.yacintasenduk.wordpress.com

Jika Ingin Hidup Semaunya...


Seorang ibu mengeluh, “Saya sudah capek dan kewalahan mendidik anak-anak saya, saya sudah memakai cara lembut sampai teriak-teriak namun anak-anak tidak perduli. Si bungsu gemar bermain games seharian tanpa kenal waktu. Jika dilarang, ia mengamuk. Jika lemari games dikunci, dia akan mencongkelnya. Si sulung berperilaku buruk, suka marah-marah dan pintar bersilat lidah, melawan dengan kata-kata yang menyakitkan hati. Saya harus bagaimana?

Saya bertanya, “Apakah suami ibu tahu akan hal ini?” “Iya, dia tahu.” Jawabnya. “Apakah suami ibu juga berusaha menegakkan peraturan yang baik pada anak-anak?” Kembali saya bertanya… “Suami saya menyerahkan semua masalah anak pada saya. Ia pergi kerja pukul 11 siang dan pulang pukul 11 malam.” Jawabnya lagi. ”Apakah suami ibu ikut menegur anak-anak, jika kedapatan anak-anak melawan ibu?” ”Tidak juga, malah menurutnya, saya terlalu keras dengan anak-anak, sehingga anak-anak tidak mau mendengarkan saya.” Pembicaraan kami seputar komunikasi ibu ini dan suaminya masih terus berlanjut. Akhirnya saya mengetahui bahwa, suami ibu ini sendiri memang bukan pendengar yang baik dan adalah seorang sosok yang selalu ingin dimenangkan. Pendapat istrinya, jarang disetujuinya.

Jelaslah dari mana datangnya ketidakpatuhan anak-anak ibu ini, yaitu mengikuti contoh ayah mereka. Ayah yang tidak mau mendengarkan dan egois, perilakunya terpantul pada anak-anak yang juga suka meremehkan sang ibu.

Tetapi macam ayah ataupun suami yang seperti ini sebenarnya tidaklah sedikit. Mereka seperti memiliki kehidupan sendiri dan tidak bisa melihat betapa istri dan anak-anaknya semakin hari menjadi kacau hidupnya karena perilaku buruknya. Kepada ibu tadi, saya menyarankan agar ibu itu berbicara dengan suaminya bahwa demi kebahagiaan keluarga, sang suami harus juga membantu istrinya untuk mendidik anak-anak dengan kompak. Belakangan saya tahu bahwa ketika berbicara dengan saya, suami-istri itu memang sedang di dalam proses bercerai dan kini sudah bercerai. Bercerai bukan karena perselingkuhan, tetapi karena suami memilih ingin tenang hidup sendiri semau-maunya... Kini yang ada adalah, seorang janda yang sakit hati dengan anak-anak yang tumbuh-dewasa sulit diatur.

 Dari satu orang yang berpola pikir tidak teratur, menyebabkan kekacauan hidup 3 orang lainnya, dan jika anak-anaknya kelak sudah berumah-tangga, ada kemungkinan mereka hidup juga tidak teratur karena tidak pernah punya teladan keluarga yang baik... Saya harap, semoga tidak demikian...

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Principal of Yemayo Advance Education Center
FB fanpage: http://www.facebook.com/pages/Yacinta-Senduk/124113834349748
Blogs:
www.yacintasenduk.blogspot.com
www.yacintasenduk.wordpress.com

Penyesalan Dalam Hidupku

Tadinya, prestasi di sekolahku cukup menggembirakan. Aku selalu berada di deretan 10 besar, walaupun memang belum pernah masuk 3 besar. Hidupku pun berjalan dengan baik, banyak hal-hal indah dan lucu terjadi yang menyenangkan hati.
Aku tidak ingat kapan tepatnya segala kekacauan hidupku terjadi, tetapi awal mulanya adalah ketika akhirnya ayah dan ibuku bercerai. Ayah dan ibuku bertanya kepadaku, aku ingin ikut siapa, ingin ikut ayah? Atau ingin ikut ibu? Bagiku itu adalah pertanyaan yang sulit. Aku senang bila dekat dengan ayahku, karena ia sangat lucu, kami sering menghabiskan waktu bersama membicarakan tentang planet, bintang, bulan dan angkasa. Bila sudah berbicara dengan ayah, maka rasanya waktu sangat berjalan cepat karena perbincangan kami memang terlalu asyik. Aku pun bahagia bila dekat dengan ibuku, ia seorang wanita yang baik hati dan selalu mau mendengar setiap permasalahan hidupku. Aku sering membantunya di dapur, walaupun aku tidak pandai memasak, tetapi aku senang membantu mengupaskan kentang dan memotong-motong wortel untuknya. Ibuku selalu tampak senang bila aku membantunya. Oh iya… Ibuku pun pandai memasak, masakannya selalu enak. Yah… Lantas mengapa semua yang indah-indah ini harus aku pilah dan pilih-pilih.

“Jadi, kau akan ikut siapa, nak? Ikut ayah atau ikut ibumu? Siapapun yang kaupilih, kami menghargai pilihanmu.” Suara ayahku masih terdengar jelas dan tegas. Akhirnya aku memilih untuk ikut dengan ibuku setelah tahu bahwa bila aku memilih ikut dengan ayahku maka aku harus berkenalan dengan tante Dhea yang kemungkinan besar akan menjadi istri ayahku. Aku tidak sanggup membayangkan kekacauan hidupku nantinya, lebih baik aku memilih ikut dengan seseorang yang telah aku kenal dan tidak perlu berkenalan lagi dengan sosok pribadi lain yang belum tentu akan menambah baik keadaan hidupku.

Sejak kejadian itu, aku mendapatkan suasana rumahku kurang lebih sama dengan suasana kuburan. Selalu sepi tenang, sesekali aku mendengar suara tangisan ibuku dari kamarnya dan itu membuat aku menjadi sangat bingung; apakah aku harus masuk ke dalam kamar ibuku dan menghiburnya, ataukah aku harus berdiam diri saja menikmati suara tangisan ibuku yang memilukan hati itu… Aku memilih untuk berlari ke luar rumah saja, dengan maksud tidak usah mendengarkan suara tangisan ibuku. Aku menyibukkan diri dengan bermain basket di halaman rumah kami yang kecil. Walaupun men-dribble bola dan memasukkannya berkali-kali ke ring basket sudah begitu amat menjenuhkan, tapi aku tetap melakukannya tanpa henti.

“Hei… Mengapa kau tidak bisa memasukkan bola itu ke ring basket dengan benar? Dari tadi bolamu selalu saja meleset!” Terdengar suara seseorang dari arah belakangku. Ketika aku menoleh, pria remaja seusia denganku datang menghampiriku dan kemudian ia menjabat tanganku. “Tonny.” Katanya. Itulah pertama kalinya aku mengenal Tonny. Sejak itu aku sering menghabiskan waktu bersama Tonny, tidak hanya main basket, tetapi juga bersepeda berkeliling-keliling perumahan. Semakin hari, temanku pun bertambah, tidak hanya Tonny saja, di dalam perjalanan bersepeda, kami juga bertemu dengan teman-teman pria lainnya. Hingga akhirnya kami berkenalan dengan Eddy. Beberapa kali kami ke rumah Eddy, ia sering mengadakan pesta di rumahnya yang besar. Orangtua Eddy jarang sekali ada di rumah, Eddy bilang karena orangtuanya mempunyai banyak bisnis yang tidak bisa ditinggal.

Pesta-pesta yang diadakan Eddy pada mulanya agak aneh bagiku, pilihan-pilihan lagunya benar-benar tidak sesuai dengan seleraku; aku dan Tonny sering menghabiskan waktu ngobrol di tepi kolam renang rumah Eddy, sementara Eddy dan teman-temannya sering bercengkrama di dalam rumah, yang jelas mereka semua perokok, karena asap rokok terlihat mengepul-ngepul. Yah, tentu saja aku tidak mungkin menghabiskan waktu terus menerus berbicara dengan Tonny di tepi kolam renang, sesekali aku juga ingin mengambil minum dari kulkas di dalam rumah Eddy. Tanpa sengaja ketika sedang mengambil minum, Eddy menepuk pundakku. “Ayo, mari kita bergabung, ngapain sih berbicara berdua saja dengan Tonny temanmu itu? Apa tidak membosankan?” Tanya Eddy. Jujur, aku mengakui, memang cukup membosankan juga berbicara dengan Tonny berlama-lama, rasanya aku ingin juga punya kegiatan lain yang menantang.

Aku mulai berkenalan dengan rokok yang semua itu aku dapat secara cuma-cuma dari Eddy. Setelah sebulan aku merokok dan beberapa kali menolak pil-pil dan obat-obatan yang ditawarkan padaku, tidak berapa lama aku pun memutuskan mencoba pil-pil dan obat-obatan itu. Tentu saja, Tonny pun akhirnya bergabung dengan kami. Sejak itu, tidak ada satu malam lainpun yang aku habiskan bersama Tonny untuk berbicara di tepi kolam renang. Semua acara terjadi di dalam rumah…

Sejak saat itu aku pun jadi sering bolos sekolah, bila bangun tidur, aku mendapatkan diriku masih di rumah Eddy dan kepalaku pusing luar biasa. Pulang dalam keadaan teler seperti itu, aku sering mendapat makian ibuku, tetapi apa yang dikatakan ibuku tidak terlalu dapat aku mengerti, aku terlalu teler sehingga aku tidak perduli.

Tidak jelas, kapan tepatnya, sampai pada akhirnya aku resmi dikeluarkan dari sekolahku. Beberapa kali aku menemui ayahku, beliau menasihatiku agar aku mulai memikirkan untuk mencari sekolah yang lain, tapi bagiku, keinginan sekolah itu sudah tidak ada. Aku lebih nyaman menghabiskan waktuku di rumah Eddy… Namun nyatanya, aku tidak bisa terus menerus mendapatkan obat-obatan secara cuma-cuma dari Eddy, ia mulai menyuruh aku membayar untuk semua obat-obatan yang aku pakai. Mulanya dengan baik-baik ia minta aku membayar dengan berapapun uang yang kumiliki, namun lama kelamaan, segala sesuatu dicatatnya sebagai hutang. Hutangku menjadi bertumpuk, sementara otakku sudah tidak bisa mencerna hitung-hitungan angka tapi aku sangat membutuhkan obat-obat itu. Eddy mengancam tidak akan memberikan padaku obat-obatan tersebut. Semula aku berpikir aku bisa mengendalikan diriku untuk tidak ke rumah Eddy lagi agar tidak usah mengkonsumsi obat-obatan itu, sementara otak warasku bisa mencegahku, sayangnya tubuhku yang terlanjur penuh racun dengan parah menagih obat-obat itu. Kenyataan inilah yang kemudian membuat aku mulai mencuri barang-barang di rumahku satu per satu, bilamana tidak cukup juga, maka dengan kalap aku mencari-cari dompet ibuku untuk mengambil uangnya. Makian ataupun jerit tangis ibuku sudah tidak ada artinya lagi. Walaupun masih ada sedikit sekali porsi suara hatiku untuk menghentikan semua kegilaan yang kulakukan, sayangnya tubuhku tidak bisa berkompromi lagi. Tanpa obat berarti harus menanggung rasa sakit yang bukan kepalang, inilah alasannya mengapa aku tidak bisa berhenti. Ibu mengusir diriku keluar dari rumah dengan berlinang air mata, bila aku tidak keluar dari rumah, ia akan memanggil polisi untuk memasukkan aku ke dalam penjara. Saat itu aku berpikir, baiklah, aku masih punya Eddy yang bisa menampungku.

Eddy memang mau menampungku, bukan saja aku yang ditampungnya, Tonny juga ditampungnya. Namun kami juga harus bekerja mencari uang untuk terus membeli obat. Jadilah aku dan Tonny pengedar obat-obatan terlarang. Hasil penjualannya lumayan, walaupun harus kucing-kucingan terus dengan polisi, tapi kami tetap bisa menjual dengan aman. Pesta-pesta obat-obatan terlarang terus kami lakukan dari malam ke malam. Aku lebih mirip seperti zombie hidup karena aku jadi tidak berperasaan. Aku hanya bisa baik kepada orang yang dapat memberikan aku obat, kata-kata kotor dan kasar adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Perkelahian dan tonjok-tonjokkan sampai babak belur juga seringkali harus aku alami. Beberapa gigiku pun patah maupun tanggal karena perkelahian yang sering tak kusadari bagaimana awal mulanya. Obat-obat itu benar-benar sudah mematikan segala syaraf kemanusiaanku. Kekacauan-kekacauan hidupku benar-benar semakin runyam. Sampai pada suatu hari, ketika bangun dari tidurku, kurasakan kepalaku sungguh-sungguh berat luar biasa. Aku pun tidak tahu sudah berapa hari aku tidak mandi, tapi aku tidak perduli. Pagi itu aku berjalan menuju kamar mandi, ketika pegangan pintu kamar mandi itu kubuka, di sana kulihat Tonny temanku terbujur kaku di lantai kamar mandi, matanya masih terbeliak tapi instingku mengatakan bahwa ia sudah tidak bernyawa lagi. Ya, memang benar, temanku Tonny memang sudah meninggal dan aku tidak tahu bagaimana kejadiannya. Besar dugaan bahwa Tonny mengkonsumsi obat terlalu banyak dan obat-obat itu telah merenggut nyawa teman baikku itu. Hanya sedikit saja terbersit kesedihanku mengetahui Tonny sudah meninggal, tapi ketagihan tubuhku membuat itu semua tidak ada artinya lagi.

Aku kemudian tidak mampu mengingat dengan baik apa yang terjadi pada diriku, tetapi ada suatu saat dimana aku terbangun dan mendapatkan diriku di jalanan bersama dengan para gelandangan. Aku mencoba untuk kembali ke rumah Eddy, tetapi rumah itu sekarang dijaga ketat oleh satpam sehingga aku sudah tidak boleh masuk lagi ke rumah itu dan aku tidak pernah bertemu dengan Eddy lagi. Aku masih tetap mampu menjadi pengedar obat, bedanya sekarang, walaupun nafsu makanku memang minim, tetapi dengan tinggal menggelandang di jalanan, aku sering sekali kelaparan. Badanku sungguh kacau, entah bagaimana aku menjadi sangat sering menerima pukulan dari orang-orang yang tidak aku kenal. Bila diingat-ingat lagi, apa alasannya sehingga aku menerima pukulan-pukulan tersebut, aku sungguh tidak tahu, mungkin aku mencuri, mungkin aku tidak bayar hutang, mungkin aku yang memukul dahulu, entahlah. Aku sudah tidak mampu membedakan antara mimpi dan bangun menjalani hidup yang nyata. Semuanya terasa sama saja.

Sampai akhirnya, aku melihat rohku keluar dari tubuhku yang kumal dan menjijikkan, seorang berjubah hitam tinggi besar menarik rohku dengan kasar, tangan kirinya memegang pedang tajam. Aku takut setengah mati dan aku berteriak, “Ampun! Ampun!”, namun si pemakai jubah hitam itu terus saja memegangiku dengan kasar. “Ampunilah aku! Berikan aku kesempatan sekali lagi!” Teriakku  seraya menangis ketakutan. Teriakanku tidak juga dihiraukannya. “Oh! Seandainya Tuhan sungguh ada, berikanlah aku ya Tuhan, kesempatan sekali lagi!” Teriakku. Tiba-tiba… Aku terbangun. Kudapati diriku penuh selang-selang infus disana-sini. Di sisi kiriku kulihat ibuku berlinang airmata, ia sedang berdoa dengan khusuk. Aku tak tahu, apa yang sedang ia doakan. “Ibu!” Panggilku pelan. Ibuku terkejut dan berhenti berdoa, ia melihatku dan tersenyum lega. Ibuku terlihat begitu lelah dan wajahnya terlihat lebih tua dari usia yang sesungguhnya. “Terimakasih, Tuhan! Terimakasih, Tuhan! Engkau telah mengembalikan anakku. Engkau telah mengabulkan doaku.” Ucap ibuku penuh kesungguhan.

Memang bukan jalan yang mudah untuk benar-benar mengeluarkan semua racun-racun yang telah menggerogoti tubuhku, tetapi rasa takutku bertemu dengan si pemakai jubah hitam itu membuat aku berusaha dengan segala kekuatanku untuk benar-benar kembali ke hidup yang normal.

Saat ini aku menghadiri pernikahan ayahku. Ibuku tidak hadir di acara ini, aku hanya terdiam mengamati acara pernikahan ini. Untuk sebagian hidup yang telah kusia-siakan, ada satu pertanyaan dalam hatiku, haruskah aku menyalahkan laki-laki yang sedang menikmati hari bahagianya ini, atau haruskah aku menyalahkan diriku sendiri yang begitu lemah dan tidak bertanggung jawab. Apapun jawabannya… Kumohon Tuhan Pengasih mengampuni dosa-dosaku.

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Principal of Yemayo Advance Education Center
FB fanpage: http://www.facebook.com/pages/Yacinta-Senduk/124113834349748
Blogs:
www.yacintasenduk.blogspot.com
www.yacintasenduk.wordpress.com

Banyak anak dirusak oleh pola asuh yang tidak kompak!

Banyak orang percaya bahwa orang-orang yang bermasalah dengan narkoba dan seks bebas adalah mereka yang berasal dari keluarga broken home. Pendapat ini memang ada benarnya, tapi tidak sepenuhnya benar. Sesungguhnya, banyak pribadi-pribadi bermasalah narkoba dan seks bebas datang dari keluarga yang mempunyai orangtua utuh, dalam arti ayah dan ibunya tidak bercerai. Anda terkejut?

Sangat banyak pasangan suami-istri yang masing-masing suami dan istrinya mempunyai prinsip yang berbeda dalam hal mendidik anak. Parahnya, perdebatan beda prinsip ini terjadi di depan mata anak, sehingga anak akan belajar dengan mudah memanipulasi satu pihak yang lemah.

Seorang ibu mengeluhkan perilaku anaknya yang susah diatur; jika disuruh belajar, anak itu punya banyak alasan menunda. Berbagai macam hukuman diberikan sang ibu, namun nampaknya anak sudah tidak perduli lagi. Nada-nada tinggi ibu, tidak digubris lagi oleh anak. Menambah runyam keadaan, sang suami berkali-kali menegur istrinya yang dianggap terlalu keras pada anak. “Sudahlah, ma, kalau dia sudah tidak mau belajar, terus mau diapakan? Masak kamu mau hukum terus? Sama anak keras bener!” Tegur sang suami ketika keluarga sedang berkumpul di meja makan. “Loh, jadi dibiarkan saja, dia tidak usah belajar? Terus kalau tidak naik kelas bagaimana? Nggak! Pokoknya, habis makan ini dia harus belajar 2 jam!” Bantah ibu. Pertengkaran perbedaan pendapat di depan anak ini, salah besar! Baru 15 menit anak belajar di kamar, sang ayah masuk dan berkata, “Tidak usah terlalu dipaksakan! Kalau kamu lelah, kamu tidur saja.” Hibur ayah. Ayah ini tidak tahu bahwa ia sedang merusak suatu proses pendidikan yang besar bagi pribadi anaknya.

“Aku nggak suka sama mamaku, mamaku seperti monster. Kerjanya marah-marah melulu! Paling enak sama papa, aku bisa main-main terus.” Komentar Mira (bukan nama sebenarnya) gadis kecil berusia 8 tahun kepada pengajar di kelas kami.
“Iya, kalau saya sama anak sih, tegas loh. Tapi papanya itu, belain melulu.” Curhat sang ibu kepada saya. Mungkin saja cara ibu tersebut marah-marah terus pada anaknya tidak benar. Tetapi lebih tidak benar lagi tindakan sang suami yang tidak membela sang istri di depan anaknya. Seharusnyalah suami-istri kompak menetapkan suatu peraturan dan menjalankannya dengan konsisten. Jika terasa ada kesalahan di dalam menjalankannya, misalnya, suami merasa istri terlalu keras menjalankan-nya atau sebaliknya, tegurlah pasangan anda di belakang anak. Jika anda merasa perlu merubah suatu peraturan, bicarakan dahulu dengan pasangan anda. Hindari mengganti peraturan di depan anak, sebab jika terjadi pertengkaran suami-istri, maka anak akan mempelajari mana pihak pasangan yang lemah, ayah atau ibu.

Pada kasus ibu tersebut, saya meminta ia dan suaminya datang. Saya jelaskan bahwa Mira menceritakan kepada kami bahwa ia tidak belajar karena menurut papa belajar itu tidak boleh terlalu dipaksakan. Pernyataan ini memang ada benarnya, tetapi dalam kasus Mira, ini adalah usaha ‘manipulasi’ anak untuk mendapatkan kebebasan secara berlebihan, yaitu supaya ia tidak usah belajar dan lebih banyak bermain saja. Pada saat ayah berusaha menjadi pahlawan untuk melepaskan anaknya tersebut dari kewajiban belajar, ayah itu tidak menyadari bahwa ia sedang menunjukkan suatu kelemahan yang besar. Anak mendapat persepsi bahwa papaku ‘lembek’ mudah dimanipulasi.

Sebulan sejak pembicaraan dengan pasangan suami-istri itu, saya melihat perubahan positif Mira, sang ibupun mengakui bahwa Mira mulai mau belajar sendiri. Pada saat ibu memarahi, ayah menimpali, “iya, mamamu benar. Sekarang masuk kamar dan belajarlah.” Di kelas pun Mira sudah sering bercerita tentang kebaikan mamanya. Syukurlah, mamanya sudah bukan monster lagi baginya…
Lihatlah kasus awalnya, hanya karena tidak kompak, pola belajar anak menjadi rusak; pola hormat kepada orangtuapun menjadi kacau!
Pada kasus pecandu narkoba, awalnya, ayah/ibu yang lemah adalah pihak yang selalu mendanai pembelian narkoba tersebut karena mudah dimintai uang. Pihak orangtua yang lemah merasa ‘tidak tega’ jika tidak memberi uang lebih, padahal uang itu dipakai untuk memperoleh narkoba atau untuk mendanai pesta-pesta malamnya. Sedangkan pihak yang keras menjadi pihak yang paling dibenci anak karena pihak itu dianggap berusaha menghalang-halangi kesenangannya.

Bagi orangtua yang merasa tidak tegaan atau ingin menjadi pahlawan bagi anak, ketahuilah bahwa anda justru sedang menjadi ‘penjahat’ bagi masa depan anak anda. Jika anda berpikir anak akan menyayangi anda, anda salah besar karena perlahan anak bertumbuh menjadi pribadi pembangkang yang tidak punya rasa hormat dan yang menganggap remeh peraturan, padahal hidup kita dikelilingi oleh banyak peraturan, seperti peraturan sekolah, peraturan kerja, norma-norma, dan sebagainya. Hari ini mungkin anak tampak menyayangi anda, namun ia akan menjadi kasar jika anda tidak memenuhi permintaannya. Kompaklah! Jika anda benar-benar sayang dengan keluarga anda. Selain anak akan tumbuh menjadi pribadi yang baik, pasangan andapun pasti akan merasa dihargai.

“orang yang selalu mempersiapkan segala sesuatu
telah menghadapi separuh dari peperangannya.”
= Miguel de Cervantes

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Principal of Yemayo – Advance Education Center
FB fanpage: http://www.facebook.com/pages/Yacinta-Senduk/124113834349748

Bandeng Kecap Mertua & Sambel Ati Menantu

Teman saya, sebut saja Ratna, dengan wajah resah mendekati saya, ”wah! Bingung nih, mau masak apa yang enak ya hari ini?” Tanyanya cemas..
”Duh! Mau masak aja, kok susah hati kayak gitu sih. Masak aja yang simpel-simpel yang disenangi suami dan anakmu.” Jawab saya.
”Ah! Nggak bisa gitu. Aku tuh kalau masak harus istimewa. Harus enak. Sebab ibu mertuaku, selalu memperhatikanku.” Katanya..
”Memperhatikan bagaimana, maksudmu?” Tanya saya heran.
”Iya, ibu mertuaku itu selalu senang jika masakannya dipuji dan terutama dia senang kalau orang-orang rumah tidak menyenangi masakanku.
Ibu mertuaku akan berkata, ”Wah! Kalau ibu yang masak, pasti bapak makannya banyak dan ludes... Tapi kalau Ratna yang masak, bapak nggak pernah makannya nambah...” Uuhh! Padahal kemarin itu, bapak mertuaku tidak menghabiskan juga ikan bandeng kecap buatan ibu mertuaku, malah aku buat sambel ati, bapak mertuaku itu makan lahap banget.. Itu aja, ibu mertuaku sudah melirik-lirik jengkel, terakhir dia bilang, ”ah! Sambel ati ginian sih mudah kok, besok ibu buatkan yang enak.” Kata Ratna pada saya kesal.

”Hhhmm, kalau begitu, berikan saja kesempatan pada ibu mertuamu untuk selalu masak, supaya masakannya selalu yang dipuji.” Jawab saya.

”Itu sudah pernah kulakukan. Tapi kan akhirnya, ibu mertuaku kecapekan, dia mengeluh pada suamiku... Kenapa sih, istrimu itu malas sekali? Masak ibu harus setiap hari memasak untuk keluarga ini? Tuh kan.. liat... aku salah lagi kan?” Kata Ratna.

Hal-hal seperti ini memang dilema. Hubungan antara mertua dan menantu, apalagi mertua perempuan dan menantu perempuan, banyak yang tidak sehat. Memang tidak semua. Cerita teman saya itu adalah sebagian dari cerita-cerita tentang hubungan mertua dan menantu yang ruwet. Seringnya, jika tidak diatasi dengan benar, hal inilah yang memicu perceraian. Dalam hal ini, dibutuhkan ketegasan seorang suami dimana ia harus tetap dapat menghormati ibunya dan juga tetap menenangkan perasaan istrinya. Herannya, banyak suami yang tidak sanggup mengatasi hal ini dan memilih diam saja.. Yang paling menyedihkan, ada juga suami-suami yang masih diam saja, ketika ia melihat istri dan anak-anaknya meninggalkannya. Mereka berpikir, istri merekalah yang lemah, tidak menyadari bahwa ia sebagai kepala rumah tanggalah yang seharusnya berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan keluarganya dengan tetap tidak kurang ajar terhadap orangtuanya. Dalam kasus-kasus seperti ini, baik mertua, anak dan menantu, seharusnyalah semua belajar melihat, jika ada hal-hal tidak baik terjadi, seharusnya, masing-masing pihak memeriksa diri, apakah telah bersikap positif dan dewasa agar jangan ada rumah-rumah sedih yang penuh pertengkaran yang tidak sehat sehingga menumpulkan kecerdasan pribadi orang-orang di dalamnya, termasuk anak-anak kita.

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Principal of Yemayo Advance Education Center

Celoteh anak...

"Coach, bebas itu apa? Bentuknya gimana?
Katanya disuruh gambar bebas."
(Coach: legaaaaa... kirain mau ada perdebatan filsafat. Untung bukan)

Yemayo-AEC Team
Follow @Juniory_PS
Fanpage FB: Juniory Pre-School