Tadinya, prestasi di sekolahku cukup menggembirakan. Aku selalu berada di deretan 10 besar, walaupun memang belum pernah masuk 3 besar. Hidupku pun berjalan dengan baik, banyak hal-hal indah dan lucu terjadi yang menyenangkan hati.
Aku tidak ingat kapan tepatnya segala kekacauan hidupku terjadi, tetapi awal mulanya adalah ketika akhirnya ayah dan ibuku bercerai. Ayah dan ibuku bertanya kepadaku, aku ingin ikut siapa, ingin ikut ayah? Atau ingin ikut ibu? Bagiku itu adalah pertanyaan yang sulit. Aku senang bila dekat dengan ayahku, karena ia sangat lucu, kami sering menghabiskan waktu bersama membicarakan tentang planet, bintang, bulan dan angkasa. Bila sudah berbicara dengan ayah, maka rasanya waktu sangat berjalan cepat karena perbincangan kami memang terlalu asyik. Aku pun bahagia bila dekat dengan ibuku, ia seorang wanita yang baik hati dan selalu mau mendengar setiap permasalahan hidupku. Aku sering membantunya di dapur, walaupun aku tidak pandai memasak, tetapi aku senang membantu mengupaskan kentang dan memotong-motong wortel untuknya. Ibuku selalu tampak senang bila aku membantunya. Oh iya… Ibuku pun pandai memasak, masakannya selalu enak. Yah… Lantas mengapa semua yang indah-indah ini harus aku pilah dan pilih-pilih.
“Jadi, kau akan ikut siapa, nak? Ikut ayah atau ikut ibumu? Siapapun yang kaupilih, kami menghargai pilihanmu.” Suara ayahku masih terdengar jelas dan tegas. Akhirnya aku memilih untuk ikut dengan ibuku setelah tahu bahwa bila aku memilih ikut dengan ayahku maka aku harus berkenalan dengan tante Dhea yang kemungkinan besar akan menjadi istri ayahku. Aku tidak sanggup membayangkan kekacauan hidupku nantinya, lebih baik aku memilih ikut dengan seseorang yang telah aku kenal dan tidak perlu berkenalan lagi dengan sosok pribadi lain yang belum tentu akan menambah baik keadaan hidupku.
Sejak kejadian itu, aku mendapatkan suasana rumahku kurang lebih sama dengan suasana kuburan. Selalu sepi tenang, sesekali aku mendengar suara tangisan ibuku dari kamarnya dan itu membuat aku menjadi sangat bingung; apakah aku harus masuk ke dalam kamar ibuku dan menghiburnya, ataukah aku harus berdiam diri saja menikmati suara tangisan ibuku yang memilukan hati itu… Aku memilih untuk berlari ke luar rumah saja, dengan maksud tidak usah mendengarkan suara tangisan ibuku. Aku menyibukkan diri dengan bermain basket di halaman rumah kami yang kecil. Walaupun men-dribble bola dan memasukkannya berkali-kali ke ring basket sudah begitu amat menjenuhkan, tapi aku tetap melakukannya tanpa henti.
“Hei… Mengapa kau tidak bisa memasukkan bola itu ke ring basket dengan benar? Dari tadi bolamu selalu saja meleset!” Terdengar suara seseorang dari arah belakangku. Ketika aku menoleh, pria remaja seusia denganku datang menghampiriku dan kemudian ia menjabat tanganku. “Tonny.” Katanya. Itulah pertama kalinya aku mengenal Tonny. Sejak itu aku sering menghabiskan waktu bersama Tonny, tidak hanya main basket, tetapi juga bersepeda berkeliling-keliling perumahan. Semakin hari, temanku pun bertambah, tidak hanya Tonny saja, di dalam perjalanan bersepeda, kami juga bertemu dengan teman-teman pria lainnya. Hingga akhirnya kami berkenalan dengan Eddy. Beberapa kali kami ke rumah Eddy, ia sering mengadakan pesta di rumahnya yang besar. Orangtua Eddy jarang sekali ada di rumah, Eddy bilang karena orangtuanya mempunyai banyak bisnis yang tidak bisa ditinggal.
Pesta-pesta yang diadakan Eddy pada mulanya agak aneh bagiku, pilihan-pilihan lagunya benar-benar tidak sesuai dengan seleraku; aku dan Tonny sering menghabiskan waktu ngobrol di tepi kolam renang rumah Eddy, sementara Eddy dan teman-temannya sering bercengkrama di dalam rumah, yang jelas mereka semua perokok, karena asap rokok terlihat mengepul-ngepul. Yah, tentu saja aku tidak mungkin menghabiskan waktu terus menerus berbicara dengan Tonny di tepi kolam renang, sesekali aku juga ingin mengambil minum dari kulkas di dalam rumah Eddy. Tanpa sengaja ketika sedang mengambil minum, Eddy menepuk pundakku. “Ayo, mari kita bergabung, ngapain sih berbicara berdua saja dengan Tonny temanmu itu? Apa tidak membosankan?” Tanya Eddy. Jujur, aku mengakui, memang cukup membosankan juga berbicara dengan Tonny berlama-lama, rasanya aku ingin juga punya kegiatan lain yang menantang.
Aku mulai berkenalan dengan rokok yang semua itu aku dapat secara cuma-cuma dari Eddy. Setelah sebulan aku merokok dan beberapa kali menolak pil-pil dan obat-obatan yang ditawarkan padaku, tidak berapa lama aku pun memutuskan mencoba pil-pil dan obat-obatan itu. Tentu saja, Tonny pun akhirnya bergabung dengan kami. Sejak itu, tidak ada satu malam lainpun yang aku habiskan bersama Tonny untuk berbicara di tepi kolam renang. Semua acara terjadi di dalam rumah…
Sejak saat itu aku pun jadi sering bolos sekolah, bila bangun tidur, aku mendapatkan diriku masih di rumah Eddy dan kepalaku pusing luar biasa. Pulang dalam keadaan teler seperti itu, aku sering mendapat makian ibuku, tetapi apa yang dikatakan ibuku tidak terlalu dapat aku mengerti, aku terlalu teler sehingga aku tidak perduli.
Tidak jelas, kapan tepatnya, sampai pada akhirnya aku resmi dikeluarkan dari sekolahku. Beberapa kali aku menemui ayahku, beliau menasihatiku agar aku mulai memikirkan untuk mencari sekolah yang lain, tapi bagiku, keinginan sekolah itu sudah tidak ada. Aku lebih nyaman menghabiskan waktuku di rumah Eddy… Namun nyatanya, aku tidak bisa terus menerus mendapatkan obat-obatan secara cuma-cuma dari Eddy, ia mulai menyuruh aku membayar untuk semua obat-obatan yang aku pakai. Mulanya dengan baik-baik ia minta aku membayar dengan berapapun uang yang kumiliki, namun lama kelamaan, segala sesuatu dicatatnya sebagai hutang. Hutangku menjadi bertumpuk, sementara otakku sudah tidak bisa mencerna hitung-hitungan angka tapi aku sangat membutuhkan obat-obat itu. Eddy mengancam tidak akan memberikan padaku obat-obatan tersebut. Semula aku berpikir aku bisa mengendalikan diriku untuk tidak ke rumah Eddy lagi agar tidak usah mengkonsumsi obat-obatan itu, sementara otak warasku bisa mencegahku, sayangnya tubuhku yang terlanjur penuh racun dengan parah menagih obat-obat itu. Kenyataan inilah yang kemudian membuat aku mulai mencuri barang-barang di rumahku satu per satu, bilamana tidak cukup juga, maka dengan kalap aku mencari-cari dompet ibuku untuk mengambil uangnya. Makian ataupun jerit tangis ibuku sudah tidak ada artinya lagi. Walaupun masih ada sedikit sekali porsi suara hatiku untuk menghentikan semua kegilaan yang kulakukan, sayangnya tubuhku tidak bisa berkompromi lagi. Tanpa obat berarti harus menanggung rasa sakit yang bukan kepalang, inilah alasannya mengapa aku tidak bisa berhenti. Ibu mengusir diriku keluar dari rumah dengan berlinang air mata, bila aku tidak keluar dari rumah, ia akan memanggil polisi untuk memasukkan aku ke dalam penjara. Saat itu aku berpikir, baiklah, aku masih punya Eddy yang bisa menampungku.
Eddy memang mau menampungku, bukan saja aku yang ditampungnya, Tonny juga ditampungnya. Namun kami juga harus bekerja mencari uang untuk terus membeli obat. Jadilah aku dan Tonny pengedar obat-obatan terlarang. Hasil penjualannya lumayan, walaupun harus kucing-kucingan terus dengan polisi, tapi kami tetap bisa menjual dengan aman. Pesta-pesta obat-obatan terlarang terus kami lakukan dari malam ke malam. Aku lebih mirip seperti zombie hidup karena aku jadi tidak berperasaan. Aku hanya bisa baik kepada orang yang dapat memberikan aku obat, kata-kata kotor dan kasar adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Perkelahian dan tonjok-tonjokkan sampai babak belur juga seringkali harus aku alami. Beberapa gigiku pun patah maupun tanggal karena perkelahian yang sering tak kusadari bagaimana awal mulanya. Obat-obat itu benar-benar sudah mematikan segala syaraf kemanusiaanku. Kekacauan-kekacauan hidupku benar-benar semakin runyam. Sampai pada suatu hari, ketika bangun dari tidurku, kurasakan kepalaku sungguh-sungguh berat luar biasa. Aku pun tidak tahu sudah berapa hari aku tidak mandi, tapi aku tidak perduli. Pagi itu aku berjalan menuju kamar mandi, ketika pegangan pintu kamar mandi itu kubuka, di sana kulihat Tonny temanku terbujur kaku di lantai kamar mandi, matanya masih terbeliak tapi instingku mengatakan bahwa ia sudah tidak bernyawa lagi. Ya, memang benar, temanku Tonny memang sudah meninggal dan aku tidak tahu bagaimana kejadiannya. Besar dugaan bahwa Tonny mengkonsumsi obat terlalu banyak dan obat-obat itu telah merenggut nyawa teman baikku itu. Hanya sedikit saja terbersit kesedihanku mengetahui Tonny sudah meninggal, tapi ketagihan tubuhku membuat itu semua tidak ada artinya lagi.
Aku kemudian tidak mampu mengingat dengan baik apa yang terjadi pada diriku, tetapi ada suatu saat dimana aku terbangun dan mendapatkan diriku di jalanan bersama dengan para gelandangan. Aku mencoba untuk kembali ke rumah Eddy, tetapi rumah itu sekarang dijaga ketat oleh satpam sehingga aku sudah tidak boleh masuk lagi ke rumah itu dan aku tidak pernah bertemu dengan Eddy lagi. Aku masih tetap mampu menjadi pengedar obat, bedanya sekarang, walaupun nafsu makanku memang minim, tetapi dengan tinggal menggelandang di jalanan, aku sering sekali kelaparan. Badanku sungguh kacau, entah bagaimana aku menjadi sangat sering menerima pukulan dari orang-orang yang tidak aku kenal. Bila diingat-ingat lagi, apa alasannya sehingga aku menerima pukulan-pukulan tersebut, aku sungguh tidak tahu, mungkin aku mencuri, mungkin aku tidak bayar hutang, mungkin aku yang memukul dahulu, entahlah. Aku sudah tidak mampu membedakan antara mimpi dan bangun menjalani hidup yang nyata. Semuanya terasa sama saja.
Sampai akhirnya, aku melihat rohku keluar dari tubuhku yang kumal dan menjijikkan, seorang berjubah hitam tinggi besar menarik rohku dengan kasar, tangan kirinya memegang pedang tajam. Aku takut setengah mati dan aku berteriak, “Ampun! Ampun!”, namun si pemakai jubah hitam itu terus saja memegangiku dengan kasar. “Ampunilah aku! Berikan aku kesempatan sekali lagi!” Teriakku seraya menangis ketakutan. Teriakanku tidak juga dihiraukannya. “Oh! Seandainya Tuhan sungguh ada, berikanlah aku ya Tuhan, kesempatan sekali lagi!” Teriakku. Tiba-tiba… Aku terbangun. Kudapati diriku penuh selang-selang infus disana-sini. Di sisi kiriku kulihat ibuku berlinang airmata, ia sedang berdoa dengan khusuk. Aku tak tahu, apa yang sedang ia doakan. “Ibu!” Panggilku pelan. Ibuku terkejut dan berhenti berdoa, ia melihatku dan tersenyum lega. Ibuku terlihat begitu lelah dan wajahnya terlihat lebih tua dari usia yang sesungguhnya. “Terimakasih, Tuhan! Terimakasih, Tuhan! Engkau telah mengembalikan anakku. Engkau telah mengabulkan doaku.” Ucap ibuku penuh kesungguhan.
Memang bukan jalan yang mudah untuk benar-benar mengeluarkan semua racun-racun yang telah menggerogoti tubuhku, tetapi rasa takutku bertemu dengan si pemakai jubah hitam itu membuat aku berusaha dengan segala kekuatanku untuk benar-benar kembali ke hidup yang normal.
Saat ini aku menghadiri pernikahan ayahku. Ibuku tidak hadir di acara ini, aku hanya terdiam mengamati acara pernikahan ini. Untuk sebagian hidup yang telah kusia-siakan, ada satu pertanyaan dalam hatiku, haruskah aku menyalahkan laki-laki yang sedang menikmati hari bahagianya ini, atau haruskah aku menyalahkan diriku sendiri yang begitu lemah dan tidak bertanggung jawab. Apapun jawabannya… Kumohon Tuhan Pengasih mengampuni dosa-dosaku.
Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Principal of Yemayo Advance Education Center
FB fanpage: http://www.facebook.com/pages/Yacinta-Senduk/124113834349748
Blogs:
www.yacintasenduk.blogspot.com
www.yacintasenduk.wordpress.com